by Santacitto Novice
Mengapa orangtua harus dihormati layaknya seorang
Brahma oleh anaknya? Karena seperti halnya seorang Brahma memiliki empat
kwalitas batin yakni metta (cinta kasih), karuna (kasih sayang), mudita
(simpati) dan upekkha (keseimbangan batin), demikian pula, orangtua telah
merawat kita melalui empat kwalitas batin tersebut.
Metta - ketika seorang anak masih dalam kandungan, dengan pikiran cinta kasih,
orangtua mengharapkan anaknya terlahir selamat tanpa cacat sedikit pun.
Karuna - ketika seorang anak masih bayi, dengan
perasaan kasih sayang ingin menghilangkan penderitaan anaknya, orangtua bahkan
akan bangun di tengah malam mendengar tangisan anaknya.
Mudita - ketika seorang anak berlari tertawa
tersenyum gembira, orangtua tidak akan menaruh iri, namun akan turut bahagia
dengan kegembiraan anaknya.
Upekkha - ketika seorang anak menikah dan harus
pergi ke rumah lain untuk membina rumah-tangganya sendiri, meskipun di sana
muncul kemelekatan yang besar, orangtua mengembangkan keseimbangan batin untuk
tidak bersedih ketika ditinggal anak tercintanya.
(Kitab Komentar Anguttaranikāya, Vol. II, hal.
204).
Rabu, 10 Juli 2013
Antara Brahma dan Orang Tua
Minggu, 23 Juni 2013
Obsesi pikiran seorang laki-laki dan perempuan
Sumber AN-1
Demikianlah Yang
kudengar. Pada suatu Ketika Sang Bhagavā sedang menetap di
Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana
Sang Bhagavā memanggil para bhikkhu: “Para bhikkhu!”
“Yang Mulia!” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu bentuk pun yang begitu mengobsesi
pikiran seorang laki-laki seperti halnya bentuk seorang perempuan. Bentuk
seorang perempuan mengobsesi pikiran seorang laki-laki.”
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu suara pun yang begitu mengobsesi
pikiran seorang laki-laki seperti halnya suara seorang perempuan. Suara seorang
perempuan mengobsesi pikiran seorang laki-laki.”
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu bau pun yang begitu mengobsesi
pikiran seorang laki-laki seperti halnya bau seorang perempuan. Bau seorang
perempuan mengobsesi pikiran seorang laki-laki.”
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu rasa kecapan pun yang begitu
mengobsesi pikiran seorang laki-laki seperti halnya rasa kecapan seorang
perempuan. Rasa kecapan seorang perempuan mengobsesi pikiran seorang
laki-laki.”
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu sentuhan pun yang begitu
mengobsesi pikiran seorang laki-laki seperti halnya sentuhan seorang perempuan.
Sentuhan seorang perempuan mengobsesi pikiran seorang laki-laki.”
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu bentuk pun yang begitu mengobsesi
pikiran seorang perempuan seperti halnya bentuk seorang laki-laki. Bentuk
seorang laki-laki mengobsesi pikiran seorang perempuan.”
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu suara pun yang begitu mengobsesi
pikiran seorang perempuan seperti halnya suara seorang laki-laki. Suara seorang
laki-laki mengobsesi pikiran seorang perempuan.”
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu bau pun yang begitu mengobsesi
pikiran seorang perempuan seperti halnya bau seorang laki-laki. Bau seorang
laki-laki mengobsesi pikiran seorang perempuan.”
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu rasa kecapan pun yang begitu
mengobsesi pikiran seorang perempuan seperti rasa halnya kecapan seorang
laki-laki. Rasa kecapan seorang laki-laki mengobsesi pikiran seorang
perempuan.”
“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu sentuhan pun yang begitu
mengobsesi pikiran seorang perempuan seperti halnya sentuhan seorang laki-laki.
Sentuhan seorang laki-laki mengobsesi pikiran seorang perempuan.”
Kamis, 13 Juni 2013
Ketenangan dan Pandangan Terang
Anggutara
Nikaya 2
Bab
3
“Para
bhikkhu, kedua hal ini berhubungan dengan pengetahuan sejati. Apakah dua ini?
Ketenangan dan pandangan terang. Ketika ketenangan terkembang, manfaat apakah
yang dialami seseorang? Pikirannya terkembang. Ketika pikirannya terkembang,
manfaat apakah yang ia alami? Nafsu ditinggalkan. Ketika pandangan terang
terkembang, manfaat apakah yang ia alami? Kebijaksanaan terkembang. Ketika
kebijaksanaan terkembang, manfaat apakah yang ia alami? Ketidak-tahuan
ditinggalkan.
“Pikiran
yang dikotori oleh nafsu adalah tidak terbebaskan, dan kebijaksanaan yang
dikotori oleh ketidak-tahuan adalah tidak terkembang. Demikianlah, para
bhikkhu, melalui meluruhnya nafsu maka ada kebebasan pikiran, dan melalui
meluruhnya ketidak-tahuan maka ada kebebasan melalui kebijaksanaan.”
Bab 19
“Para bhikkhu, demi pengetahuan langsung pada nafsu, maka dua hal harus
dikembangkan. Apakah dua ini? Ketenangan dan pandangan terang. Demi pengetahuan
langsung pada nafsu, dua hal ini harus dikembangkan.”
“Para bhikkhu, demi pemahaman penuh pada nafsu … demi kehancuran nafsu
sepenuhnya … demi ditinggalkannya nafsu … demi hancurnya nafsu … demi hilangnya
nafsu … demi peluruhan nafsu … demi lenyapnya nafsu … demi berhentinya nafsu …
demi terlepasnya nafsu, maka dua hal harus dikembangkan. Apakah dua ini?
Ketenangan dan pandangan terang. Demi terlepasnya nafsu, dua hal ini harus
dikembangkan.”
“Para bhikkhu, demi pengetahuan langsung … demi pemahaman penuh … demi
kehancuran total … demi ditinggalkannya … demi hancurnya … demi hilangnya …
demi peluruhan … demi lenyapnya … demi berhentinya … demi terlepasnya kebencian
… delusi … kemarahan … permusuhan … meremehkan … menghina … iri … kekikiran …
kecurangan … muslihat … kekeras-kepalaan … keberapi-apian … keangkuhan …
kesombongan … kemabukan … kelengahan, maka dua hal harus dikembangkan. Apakah
dua ini? Ketenangan dan pandangan terang. Demi terlepasnya kelengahan, dua hal
ini harus dikembangkan.”