Tampilkan postingan dengan label Buddha-Anguttara Nikaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buddha-Anguttara Nikaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juli 2013

Antara Brahma dan Orang Tua

by Santacitto Novice

Mengapa orangtua harus dihormati layaknya seorang Brahma oleh anaknya? Karena seperti halnya seorang Brahma memiliki empat kwalitas batin yakni metta (cinta kasih), karuna (kasih sayang), mudita (simpati) dan upekkha (keseimbangan batin), demikian pula, orangtua telah merawat kita melalui empat kwalitas batin tersebut.

Metta - ketika seorang anak masih dalam kandungan, dengan pikiran cinta kasih, orangtua mengharapkan anaknya terlahir selamat tanpa cacat sedikit pun.

Karuna - ketika seorang anak masih bayi, dengan perasaan kasih sayang ingin menghilangkan penderitaan anaknya, orangtua bahkan akan bangun di tengah malam mendengar tangisan anaknya.

Mudita - ketika seorang anak berlari tertawa tersenyum gembira, orangtua tidak akan menaruh iri, namun akan turut bahagia dengan kegembiraan anaknya.

Upekkha - ketika seorang anak menikah dan harus pergi ke rumah lain untuk membina rumah-tangganya sendiri, meskipun di sana muncul kemelekatan yang besar, orangtua mengembangkan keseimbangan batin untuk tidak bersedih ketika ditinggal anak tercintanya.

(Kitab Komentar Anguttaranikāya, Vol. II, hal. 204).

Minggu, 23 Juni 2013

Obsesi pikiran seorang laki-laki dan perempuan

Sumber AN-1

 

Demikianlah Yang kudengar. Pada suatu Ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Sang Bhagavā memanggil para bhikkhu: “Para bhikkhu!”

“Yang Mulia!” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu bentuk pun yang begitu mengobsesi pikiran seorang laki-laki seperti halnya bentuk seorang perempuan. Bentuk seorang perempuan mengobsesi pikiran seorang laki-laki.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu suara pun yang begitu mengobsesi pikiran seorang laki-laki seperti halnya suara seorang perempuan. Suara seorang perempuan mengobsesi pikiran seorang laki-laki.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu bau pun yang begitu mengobsesi pikiran seorang laki-laki seperti halnya bau seorang perempuan. Bau seorang perempuan mengobsesi pikiran seorang laki-laki.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu rasa kecapan pun yang begitu mengobsesi pikiran seorang laki-laki seperti halnya rasa kecapan seorang perempuan. Rasa kecapan seorang perempuan mengobsesi pikiran seorang laki-laki.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu sentuhan pun yang begitu mengobsesi pikiran seorang laki-laki seperti halnya sentuhan seorang perempuan. Sentuhan seorang perempuan mengobsesi pikiran seorang laki-laki.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu bentuk pun yang begitu mengobsesi pikiran seorang perempuan seperti halnya bentuk seorang laki-laki. Bentuk seorang laki-laki mengobsesi pikiran seorang perempuan.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu suara pun yang begitu mengobsesi pikiran seorang perempuan seperti halnya suara seorang laki-laki. Suara seorang laki-laki mengobsesi pikiran seorang perempuan.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu bau pun yang begitu mengobsesi pikiran seorang perempuan seperti halnya bau seorang laki-laki. Bau seorang laki-laki mengobsesi pikiran seorang perempuan.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu rasa kecapan pun yang begitu mengobsesi pikiran seorang perempuan seperti rasa halnya kecapan seorang laki-laki. Rasa kecapan seorang laki-laki mengobsesi pikiran seorang perempuan.”

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu sentuhan pun yang begitu mengobsesi pikiran seorang perempuan seperti halnya sentuhan seorang laki-laki. Sentuhan seorang laki-laki mengobsesi pikiran seorang perempuan.”

Kamis, 13 Juni 2013

Ketenangan dan Pandangan Terang

Anggutara Nikaya 2

 

Bab 3

“Para bhikkhu, kedua hal ini berhubungan dengan pengetahuan sejati. Apakah dua ini? Ketenangan dan pandangan terang. Ketika ketenangan terkembang, manfaat apakah yang dialami seseorang? Pikirannya terkembang. Ketika pikirannya terkembang, manfaat apakah yang ia alami? Nafsu ditinggalkan. Ketika pandangan terang terkembang, manfaat apakah yang ia alami? Kebijaksanaan terkembang. Ketika kebijaksanaan terkembang, manfaat apakah yang ia alami? Ketidak-tahuan ditinggalkan.

“Pikiran yang dikotori oleh nafsu adalah tidak terbebaskan, dan kebijaksanaan yang dikotori oleh ketidak-tahuan adalah tidak terkembang. Demikianlah, para bhikkhu, melalui meluruhnya nafsu maka ada kebebasan pikiran, dan melalui meluruhnya ketidak-tahuan maka ada kebebasan melalui kebijaksanaan.”

 

Bab 19

“Para bhikkhu, demi pengetahuan langsung pada nafsu, maka dua hal harus dikembangkan. Apakah dua ini? Ketenangan dan pandangan terang. Demi pengetahuan langsung pada nafsu, dua hal ini harus dikembangkan.”

“Para bhikkhu, demi pemahaman penuh pada nafsu … demi kehancuran nafsu sepenuhnya … demi ditinggalkannya nafsu … demi hancurnya nafsu … demi hilangnya nafsu … demi peluruhan nafsu … demi lenyapnya nafsu … demi berhentinya nafsu … demi terlepasnya nafsu, maka dua hal harus dikembangkan. Apakah dua ini? Ketenangan dan pandangan terang. Demi terlepasnya nafsu, dua hal ini harus dikembangkan.”

“Para bhikkhu, demi pengetahuan langsung … demi pemahaman penuh … demi kehancuran total … demi ditinggalkannya … demi hancurnya … demi hilangnya … demi peluruhan … demi lenyapnya … demi berhentinya … demi terlepasnya kebencian … delusi … kemarahan … permusuhan … meremehkan … menghina … iri … kekikiran … kecurangan … muslihat … kekeras-kepalaan … keberapi-apian … keangkuhan … kesombongan … kemabukan … kelengahan, maka dua hal harus dikembangkan. Apakah dua ini? Ketenangan dan pandangan terang. Demi terlepasnya kelengahan, dua hal ini harus dikembangkan.”

Senin, 03 Juni 2013

Lima cara memberi yang terbaik beserta manfaatnya

Oleh Li Hua
 
Lima cara Memberi yang terbaik menurut AN 5-148
1.    Memberi dengan keyakinan, di mana pun hasil dari pemberian itu masak, dia menjadi kaya dan berkelimpahan, harta kekayaannya besar, dan dia elok, menarik, anggun, memiliki keindahan kulit yang luar biasa.
2.    Memberi dengan penuh hormat, di mana pun hasil dari pemberian itu masak, dia menjadi kaya dan berkelimpahan, harta kekayaannya besar, dan an...ak istrinya, budaknya, persuruh dan pekerjanya patuh, mendengarkan dia dan menggunakan pikirannya untuk memahami dia.
3.    Memberi pada waktu yang tepat, di mana pun hasil dari pemberian itu masak, dia menjadi kaya dan berkelimpahan, harta kekayaannya besar, dan keuntungan-keuntungan datang kepadanya pada waktu yang tepat, dalam jumlah yang melimpah.
4.    Memberi dengan hati yang dermawan, di mana pun hasil dari pemberian itu masak, dia menjadi kaya dan berkelimpahan, harta kekayaannya besar, dan pikirannya cenderung menikmati hal-hal yang menyenangkan di antara lima kesenangan indera.
5.    Memberi tanpa menjelekkan dirinya dan orang lain, di mana pun hasil dari pemberian itu masak, dia menjadi kaya dan berkelimpahan, harta kekayaannya besar, dan tidak terjadi hilangnya kekayaan dari penjuru mana pun, entah dari api atau banjir atau raja atau bandit atau ahli waris yang tidak dicintai.

 

About

Pengikut