Aku
meneguk sisa es teh tawar yang masih tersisa di gelasku. Ketika aku masih
menikmatinya ekor mataku menangkap sosok anak laki-laki yang memperhatikanku.
Matanya menatapku. Sebuah tatapan ya...ng
menusuk ke dalam hatiku. Tatapan yang penuh iba. Aku meletakkan gelas yang
hanya menyisakan es batu yang masih membeku.
“Bu, anak kecil yang duduk di pinggir jalan itu
siapa ya?” tanyaku penasaran kepada pemilik warung sambil memandang anak
laki-laki tersebut.
“Ow… Duh, kasihan tuh anak, bang!”
“Kasihan kenapa, bu?”
“Sudah seminggu bapanya meninggal gara-gara sakit.
Ibunya sih meninggal pas melahirkan dia. Dia ngga punya keluarga lagi. Sekarang
sih dia tidur di mana saja karena di usir dari kontrakan.”
“Begitu ya, bu!”
Selesai membayar es teh tawar yang aku pesan. Aku
menghampiri anak laki-laki yang hanya mengenakan pakaian kumal tanpa alas kaki.
Entah sudah berapa lama dia tidak mengganti pakaiannya.
Semakin aku mendekatinya semakin jelas kelihatan
kalau tubuhnya tidak terurus. Dia terus menatapku sampai aku duduk di
sampingnya.
“Nama kamu siapa dek?” tanyaku dengan nada
bersahabat sambil mengukir sebuah senyuman.
“Aku lapar, kak!” ucapnya sambil memegang perutnya.
Aku mencoba mengingat uang yang masih tersisa di
saku dan dompetku. Hanya ada selembar sepuluh ribuan dan dua koin lima ratus.
“Nanti kakak belikan kamu makanan. Tapi nama kamu
siapa?” Sekali lagi aku menanyakan namanya.
“Benar kak? Serius? Kakak ngga bohongkan?”
“Iya. Ngapain bohong? Tapi nama kamu siapa?”
Aku melihat senyuman manisnya yang memancarkan
barisan giginya yang tersusun rapi tapi berwarna kuning karena tidak pernah
disikat.
“Namaku Samuel Lie. Dipanggilnya Samuel. Kalau
kakak?”
“Bumi Dinasty, panggil saja kak Bumi!”
Dia mengulurkan tangannya lalu kusambut. Sebuah
jabatan salam perkenalan yang hangat. Terasa kalau tangannya penuh dengan debu
ketika tanganku bersentuhan dengan tangan munggilnya. Kukunya yang panjang
menyembunyikan daki berwarna hitam di setiap kuku jarinya.
“Yuk, kita makan.”
“Di mana kak?”
“Tuh ada warteg!” ucapku sambil menunjuk sebuah
warteg.
Dengan langkah semangat Samuel memegang tanganku
dan menuntunku ke warteg tersebut. Wajah murungnya berubah menjadi ceria.
Aku hanya memandangnya dengan mata yang hampir
copot. Lahap sekali anak ini makan. Kurang dari lima menit, makanan yang aku
pesan sudah tidak tersisa lagi. Sampai menjilat jarinya segala.
“Terima kasih ya, kak!” ucapnya dengan malu-malu.
“Sama-sama,” balasku terharu meski aku tahu jatah
makan malamku sudah tidak ada lagi.
Aku manatap Samuel yang tidur terlelap yang hanya
beralaskan koran dan tumpukan baju di kosku yang hanya berukuran 2×1,5 meter.
Masih terngiang pembicaraan antara aku dengan Samuel sebelum dia terlelap.
“Aku panggil kakak dengan sebutan Ko Bumi ya?”
Aku menatapnya dengan keheranan di antara terang
yang dipancarkan lilin kecil. Anehkan? Kos yang aku tinggali hanya seratus ribu
sebulan. Tanpa listrik dan tanpa kamar mandi. Jadi kalau mau mandi harus ke WC
umum. Itu pun harus bayar. Suara kereta api yang lewat persis di depan kosku
sudah menjadi musik tersendiri bagiku. Kata orang ada harga, ada mutu. Seperti
itulah gambaran kos di pinggiran rel kereta api.
“Dulu aku punya koko.”
“Terus koko kamu di mana sekarang?”
Hening. Sunyi. Bisu.
“Koko… Koko meninggal karena sakit sama seperti
papa. Namanya Ko Daniel.”
Kembali kesunyian mencekam.
“Ngga apa-apakan kalau aku manggil kakak dengan
panggilan Ko Bumi?”
Aku berusaha untuk tersenyum, “panggil saja Ko
Bumi.”
“Oklah kalau begitu.”
Aku tertawa dengan tingkah lakunya yang masih
polos.
Karena lelah Samuel langsung tidur terlelap.
Sementara aku berusaha menutup mataku diantara suara perutku yang berbunyi
karena kelaparan.
“Koko pengen punya toko sendiri,” celotehku ketika
mengajaknya ke tempatku bekerja. “Ngga perlu besar, yang penting milik
sendiri.”
“Kenapa ngga jadi koki saja?”
“Koki?”
“Iya. Bisa makan sepuasnya. Kita makan ya ko?”
“Kamu lapar?”
“Lapar setengah mati.”
“Tapi uang koko tinggal seribu rupiah. Cuma bisa
beli gorengan.”
Samuel hanya menatapku.
“Kamu disini ya, koko beliin kamu gorengan dulu.”
“Iya ko.”
Aku berlari untuk membeli dua potong pisang goreng.
Begitu kembali, mata Samuel berbinar-binar ketika menerima dua potong pisang
goreng.
“Ini untuk aku dan ini untuk koko,” ucapnya sambil
menyerahkan sepotong pisang goreng.
“Untuk kamu saja ya!”
“Ngga mau! Koko kan belum makan apa-apa dari
semalam?”
Dengan berat hati aku memakannya juga.
Setelah itu aku langsung melakukan tugasku ketika
tiba di toko. Membuka toko, lalu membersihkannya, melayani pembeli dan kemudian
menutupnya. Gajinya sih cukup untuk bayar kos, makan, kebutuhan sehari-hari dan
biaya transportasi. Tapi beruntung Ko Willy, si empunya toko berbaik hati
mengizinkan aku memakai komputernya untuk jualan online. Aku menjual tas yang
ada di toko Ko Willy di blogku yang kuberi nama BumiDinasty. Keuntungannya
memang sedikit. Tapi aku percaya, setia dalam hal yang kecil maka Tuhan akan
mempercayakan hal yang lebih besar lagi.
“Nanti kalau ada yang beli tas sama koko, nanti
koko traktir kamu di KFC.”
“Wow! Samuel doain semoga laku. AMIN”
Aku hanya tersenyum. Apa lagi melihat tubuhnya
sudah bersih. Meski baju yang dikenakannya kebesaran.
Aku belum bisa membelikan Samuel baju sehinga mau
ngga mau dia harus memakai pakaianku.
“Kamu sikat gigi pakai garam ya?”
Samuel menatapku dengan kebingungan.
“Pasta giginya habis. Koko belum bisa beli.”
“Ow…”
“Begini caranya…” ucapku lalu mengambil garam
dengan telunjuk tanganku dan menggosokkannya ke gigiku.
“Asin ko!”
Aku tersenyum meski hatiku perih.
“Yah iyalah masa manis.”
“Badanmu panas,” keluhku bingung ketika tanpa
sengaja menyentuh tubuhnya. “Kamu sakit ya?”
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut munggil
Samuel yang merah. Dahinya berkerut dan bibirnya mendesah menahan sakit.
Sementara di luar kos, gerimis mulai turun.
Tubuh Samuel kedinginan. Tidak ada jaket atau
selimut. Aku berusaha menghangatkan tubuhnya dengan menempelkan beberapa baju
ke seluruh tubuhnya.
“Kita ke dokter ya?” usulku, meski aku sendiri
tidak yakin mendapat pertolongan tanpa uang yang cukup. Orang miskin dilarang
sakit! Kalau berobat harus pinjam sana-sini buat biaya berobat. Setelah sembuh
kerja keras lagi buat bayar hutang.
Aku semakin bingung ketika Samuel tidak menjawab.
Dia hanya mengerang dengan mata tertutup rapat.
Aku menggendong tubuh Samuel dan membawanya ke
rumah sakit terdekat. Entah kenapa aku takut kehilangan Samuel. Meski baru dua
minggu mengenalnya. Rasanya seperti terjalin ikatan batin yang kuat diantara
kami.
Sehari tanpa ocehan Samuel rasanya ada yang aneh.
Pertanyaan-pertanyaan sering terlontar dari mulutnya hingga kadang aku
kewalahan menjawabnya.
“Woi, mau ke mana loe?” sergah satpam rumah sakit
ketika melihatku. “Enak saja main masuk!”
“Adik saya sakit, pak?”
Satpam tersebut memandangku dan Samuel
berkali-kali. Mungkin dia bingung, aku yang pribumi memiliki adik yang
keturunan Tionghoa.
“Bawa saja ke rumah sakit lain. Di sini bayarnya
mahal. Ngga terima pasien kayak begini!”
Ya Tuhan? Apa rumah sakit ini hanya menerima pasien
yang menaiki mobil mewah yang bisa di rawat di sini? Sementara orang miskin
sepertiku tidak diterima?
Ketika satpam tersebut mengarahkan mobil mewah
untuk mendapatkan parkir aku langsung menerobos masuk. Aku tetap nekat untuk
masuk. Apa pun akan aku lakukan untuk Samuel. Satpam tersebut hanya pasrah
dengan sikapku. Aku tidak menghiraukan tatapan orang yang melihatku basah kuyup
tanpa alas kaki. Sandal nyang kupakai tadi putus. Mungkin sudah waktunya untuk
diganti.
Aku tidak menghiraukan tatapan orang yang
memandangku. Dinginnya AC menusuk hingga tulang sum-sumku.
Empat hari kemudian.
“Hemofilia?” tanyaku kaget.
“Penyakit gangguan pembekuan darah dan diturunkan
oleh melalui kromoson X,” ucap dokter muda yang cantik perawakannya memberiku
penjelasan.
Aku menggagumi kecantikannya.
“Tapi selama ini tidak ada keanehan yang saya
temui, seperti pendarahan yang terus menerus atau terjadi benturan pada
tubuhnya yang mengakibatkan kebiru-biruan. Kalau boleh tahu, Samuel mengidap
hemofilia A atau Hemofilia B, dok?”
“Begitu ya? Hemofilia B.”
Aku terdiam.
“Tidak hanya itu, hasil pemeriksaan menyatakan
kalau dia juga positif HIV.”
Aku berdiri seperti patung. Samuel yang masih
berumur enam tahun mengidap HIV? Ayah atau ibunyakah yang menularkan? Atau
karena dia pernah menjalani transfusi darah dan ternyata Human Immunodeficiency
Virus lolos dalam transfusi darah yang dijalanninya.
Kini aku tahu, kenapa tidak ada satu pun
keluarganya yang mau menampungnya yang sebatang kara. Mungkin ayahnya meninggal
karena HIV juga. Entahlah.
Aku menatap wajah pucat Samuel yang terbaring lemah
dengan infus yang terpasang ditubuhnya. Selama Samuel di rawat tidak ada satu
pun kata keluh kesah yang keluar dari mulutnya.
Masih jelas tergambar di memoriku pembicaraan kami
berdua ketika mengajaknya makan di KFC di salah satu mal di bilangan Jakarta
Barat.
“Samuel pengen kado natal!” Ungkap Samuel tiba-tiba
begitu melihat nuansa natal yang menghiasi setiap penjuru mal.
“Mau kado apa?”
“Cuma pengen boneka Tazmania.”
“Nanti koko belikan kalau koko sudah punya duit.
Beberapa harri ini belum ada tas yang laku. Nanti koko belikan boneka Tazmania
yang gede.”
“Yang kecil juga ngga apa-apa kok.”
“Tapi jangan lupa berdoa ya.”
“So, pasti!”
Malamnya sebelum beranjak tidur, kembali dia
mengutarakan keinginannya.
“Koko pasti belikan buat kamu. Berharap sebelum
natal banyak tas yang laku.”
“Amin!” teriaknya memecah kesunyian malam.
Hatiku miris, seharian aku dan Samuel hanya minum
air kran. Tidak ada duit yang tersisa.
“Maafkan koko, Samuel,” bisikku dalam hati sambil
mengusap kepalanya.
Menit berikutnya.
Dia mengajakku berdoa. Biasanya aku yang
mengajaknya.
“Tuhan… Berkati Ko Bumi ya. Berkati pekerjaannya
dan usaha on…”
“Online.” timpalku yang mengetahuinya kesulitan
menyebut kata tersebut.
“Usaha onlinenya. Berkati juga bloknya.”
Aku tersenyum ketika dia menyebut kata blog dengak
pemakaian huruf K dibelakangnya.
“Nama blognya apa ko?”
“BumiDinasty.com,” ucapku dengan perlahan-lahan.”
“Berkati Bumi Dinasty dot com ya Tuhan. Biar banyak
orang yang diberkati.”
Aku terharu. Aku meneteskan air mataku.
“Ko, aku mau pulang saja!”
“Kenapa sayang? Di sinikan enak? Ngga kayak di kos
koko.”
“Tapi aku kasihan koko harus berhutang untuk bayar
semuanya.”
Diam. Sesak.
“Kamu jangan pikirkan itu ya, sayang. Tuhan pasti
cukupkan semuanya.”
Tidak ada pilihan selain meminjam uang dengan Ko
Willy dengan jaminan gajiku di potong setengah dari seharusnya aku terima
setiap bulan.
Sebatang kara seperti ini tidak bisa berharap
pertolongan kepada keluarga. Ah, betapa indahnya kalau masih memiliki keluarga.
Teman? Ini Jakarta. Uang ngga jatuh dari pohon kayak daun kering. Siapa yang
mau memberikan pinjaman kepadaku tanpa jaminan apa-apa yang bisa disita kalau
tidak mampu melunasi hutang yang ada? Memberikan pinjaman ke keluarga sendiri
saja masih pakai hitung-hitungan. Kalau mau nyumbang harus di ekspos. Berharap
kepada manusia memang sering mengecewakan.
“Kamu harus di rawat di sini supaya cepat sembuh.”
“Ko…. Maafkan aku.”
“Kenapa harus minta maaf?”
“Aku sudah merepotkan koko.”
Aku menggenggam tangannya. “Kamu tidak merepotkan
kok. Percayalah! Koko malah senang bisa berkorban buat kamu.”
Segala macam usaha telah di coba oleh tim dokter
yang menangani Samuel. Sudah dua minggu terakhir ini berbagai obat pun silih
berganti dimasukkan ke dalam tubuhnya.
Setiap hari berjam-jam aku menemaninya setelah
pulang dari jaga toko. Mengobrol, bergurau atau kadang-kadang berdongeng
untuknya.
“Ko, apa artinya meninggal dunia?”
Pertanyaan yang menghentakkan diriku yang lelah dan
lapar. HIV sudah memporak-porandakan seluruh sistem pertahanan tubuh Samuel.
Infeksi yang tidak terlalu berat pun dapat menimbulkan penyakit yang fatal.
“Artinya, kamu akan pergi ke suatu tempat yang
jauh. Tempat di mana kamu berasal.”
“Perginya sendirian?” tanyanya lemah.
Mataku berkaca-kaca. Namun aku mencoba untuk
menahan agar air mata itu tidak jatuh.
“Sendirian. Tapi kamu jangan takut.”
“Kalau aku meninggal dunia, siapa yang akan
menemani koko?”
Akhirnya air mataku juga jatuh. Diantara penderitaannya
dia masih memikirkanku.
“Aku tahu, koko sering ngga makan biar aku kenyang.
Koko sering jalan kaki pulang pergi ke toko biar bisa belikan aku sesuatu
setiap hari. Nanti di sana, siapa yang motongin kuku Samuel?” ucapnya sambil
meneteskan air matanya.
Aku memeluknya.
“Kamu ngga usah mikirin koko ya, sayang! Tuhan
pasti menjaga koko.”
“Nanti kalau aku sudah besar dan punya uang yang
banyak. Aku mau belikan koko sebuah toko. Biar koko ngga usah kerja lagi. Trus
belikan koko rumah dan mobil, biar kalau hujan bisa tetap tidur enak dan tidak
perlu lagi jalan kaki.”
Mulutku tertutup rapat. Bungkam. Tak ada kata yang
bisa melewati kerongkonganku. Di tengah rasa sakitnya, dia masih menyimpan
sebuah impian. Bukan keluh kesah karena sakit yang di deranya.
Aku membawa sebuah boneka Tazmania kecil untuk
Samuel. Samuel yang terbaring lemah memaksakan senyumannya.
“Ko…”
“Kenapa sayang?”
“Besok aku tidak bisa ikut koko natalan di gereja.”
“Ngga apa-apa.”
“Kamu suka ngga bonekanya?”
“Terima… kasih… ya, ko! Bonekanya bagus banget.”
“Maafkan koko ya. Koko ngga bisa belikan kamu
boneka yang gede.”
“Ko, aku mau… kasih koko… kado.”
Aku tercengang!
“Aku cuma… bisa kasih lagu buat koko…”
Aku mendekatkan kupingku di wajah Samuel. Suaranya
semakin pelan.
“Ku yakin saat Kau berfirman
Ku menang saat Kau bertindak
Hidupku hanya ditentukan oleh perkataanMu
Ku aman karna Kau menjaga
Ku kuat karna Kau menopang
Hidupku hanya ditentukan oleh kuasaMu
Bagi Tuhan tak ada yang mustahil
Bagi Tuhan tak ada yang tak mungkin
MujizatNya disediakan bagiku
Ku diangkat dan dipulihkanNya”
Air mataku terus jatuh ketika dengan susah payah
dia menyelesaikan lagu tersebut. Meski sudah tidak ada lagi harapan Samuel
tetap percaya mujizat itu ada.
“Selamat natal ya ko,” ucapnya dengan sangat pelan.
“Selamat natal juga sayang.”
“Ko…”
“Iya, sayang!”
“Koko bisa nyanyikan aku sebuah lagu…”
Tanpa berpikir panjang aku memenuhi permintaan
Samuel. Lagu kegemarannya…
Dalam segala perkara
Tuhan punya rencana
Yang lebih besar dari
Semua yang terpikirkan
Apapun yang Kau perbuat
Tak ada maksud jahat
Sebab itu kulakukan
Semua dengan-Mu Tuhan
Reff:
Ku tak akan menyerah pada apapun juga
Sebelum ku coba, semua yang ku bisa
Tetapi kuberserah kepada kehendak-Mu
Hatiku percaya Tuhan punya rencana.
Tangan kanan Samuel mendekap boneka Tazmanianya
sementara tangan kirinya menggengam tanganku.
Genggamannya makin lama makin lembut hingga tak ada
lagi nadinya yang berdetak.
“Surga menantimu, pahlawan kecilku,” bisikku
dikupingnya yang dingin.
=====
Cerpen ini didedikasikan untuk ODHA (orang dengan
HIV/AIDS), percayalah kalian adalah makluk tuhan yang paling bahagia dan
berharga di mata Tuhan dengan keadaan apapun.
“Jauhi virusnya bukan orangnya.”
Sumber: http://muda.kompasiana.com/2010/12/06/kado-untuk-samuel-323005.html
Kamis, 30 Mei 2013
Kado untuk Samuel
Rabu, 22 Mei 2013
Selalu salah di mata orang lain
Kisah
ini menceritakan tentang seorang lelaki tua bersama anaknya yang masih kecil
yang baru saja membeli seekor keledai. Binatang ini mirip dengan kuda, hanya
saja bentuknya lebih kecil dari kuda.
Setelah lelaki itu selesai membeli keledai, lalu
dia bersama anaknya segera membawa pulang ke rumahnya. Sang bapak menaiki
keledai itu, sementara anaknya berjalan kaki sambil menuntun keledainya dari
samping menyusuri jalan kampung yang ramai dengan orang-orang yang ada di
sekitarnya.
Namun baru beberapa langkah keledai itu
berjalan, ada seseorang yang berkata : Betapa teganya orang tua ini. Dia naik
keledai sementara anaknya yang masih kecil dibiarkan berjalan kaki.
Setelah mendengar ucapan itu, sang bapak turun
kemudian meminta anaknya menaiki keledai itu, sementara sang bapak berjalan
sambil menuntun keledai tersebut. Sesampainya di kampung lain ada yang berkata
lagi : “Alangkah tidak sopannya anak ini, dia enak-enakan naik keledai,
sementara ayahnya hanya berjalan kaki.”
Karena ada ucapan seperti itu, maka sang bapak
berkata kepada anaknya : “ Turunlah nak, kita berdua berjalan kaki saja “.
Kemudian mereka berdua berjalan kaki sambil sang bapak menuntun keledainya.
Namun ketika mereka melewati kampung yang lain , ada orang yang berkata lagi :
“Mengapa kalian berdua tidak memanfaatkan keledai itu, untuk apa kalian
berjalan kaki jika ada keledai yang bisa kalian naiki.”
Sang bapak kemudian menghentikan keledainya
setelah mendengar perkataan orang itu dan berkata kepada anaknya : ” Apa yang
telah kita lakukan salah lagi kita nak. Ya sudah, kita naiki saja berdua “.
Kemudian mereka berdua menaiki keledai itu bersama-sama, namun sesampainya di
kampung yang lain, tetap saja ada orang yang protes dan berkata : “Kasihan,
keledai sekecil itu dinaiki oleh dua orang.”
Sang bapak berkata lagi kepada anaknya : “Kita
dikatakan salah lagi nak. Kalau begitu harus kita apakan keledai ini?”. Sang
bapak kemudian berkata lagi : “ Sudahlah nak, apapun yang akan kita lakukan
pasti akan tetap salah menurut mereka. Sekarang kita pikul saja keledai ini dan
biarkan nanti kalau ada orang yang mau berkata apa, terserah dan jangan kita
dengarkan lagi “. Akhirnya mereka seperti orang gila, karena keledainya mereka
pikul bersama.
Senin, 20 Mei 2013
Bunda,,,Tolong Mandikan aku sekali saja
Sumber: internet
Dewi adalah sahabat
saya, ia adalah seorang mahasiswi yang berotak
cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan
konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik di bidang akademis maupun
profesi yang akan digelutinya. ”Why not to be the best?,” begitu ucapan yang kerap kali terdengar dari mulutnya,
mengutip ucapan seorang mantan presiden Amerika.
Ketika Kampus, mengirim
mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht-Belanda, Dewi
termasuk salah satunya.
Setelah menyelesaikan
kuliahnya, Dewi mendapat pendamping hidup yang ”selevel”;
sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. tak lama
berselang lahirlah Bayu, buah cinta mereka, anak pertamanya tersebut lahir
ketika Dewi diangkat manjadi staf diplomat, bertepatan dengan suaminya meraih
PhD. Maka lengkaplah sudah kebahagiaan mereka.
Ketika Bayu, berusia 6
bulan, kesibukan Dewi semakin menggila. Bak seekor burung garuda, nyaris tiap
hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari
satu negara ke negara lain. Sebagai seorang sahabat setulusnya saya pernah
bertanya padanya, “Tidakkah si Bayu masih terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal
oleh ibundanya ?” Dengan sigap Dewi
menjawab, “Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya dengan sempurna”.
“Everything is OK !, Don’t worry Everything is under
control kok !” begitulah selalu ucapannya, penuh percaya diri.
Ucapannya itu memang
betul-betul ia buktikan. Perawatan
anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter termahal. Dewi tinggal mengontrol jadwal Bayu lewat telepon. Pada akhirnya Bayu tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas
mandiri dan mudah mengerti.
Kakek-neneknya
selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang betapa
hebatnya ibu-bapaknya. Tentang gelar Phd. dan nama
besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang berlimpah. “Contohlah ayah-bundamu Bayu, kalau Bayu besar nanti jadilah
seperti Bunda”. Begitu selalu nenek Bayu, berpesan di
akhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Bayu berusia 5
tahun, neneknya menyampaikan kepada Dewi kalau Bayu minta seorang adik untuk
bisa menjadi teman bermainnya dirumah apa bila ia
merasa kesepian.
Terkejut
dengan permintaan tak terduga itu, Dewi dan suaminya kembali meminta pengertian
anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan
untuk menghadirkan seorang adik buat Bayu. Lagi-lagi bocah kecil inipun mau ”memahami” orangtuanya.
Dengan
Bangga Dewi mengatakan bahwa kamu memang anak hebat, buktinya, kata Dewi, kamu
tak lagi merengek minta adik. Bayu, tampaknya
mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek dan sangat mandiri. Meski
kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali
ngambek. Bahkan, tutur Dewi pada saya , Bayu selalu
menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Dewi sering
memanggilnya malaikat kecilku. Sungguh keluarga yang
bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super
sibuk, namun Bayu tetap tumbuh dengan penuh cinta dari orang tuanya. Diam-diam, saya jadi sangat iri pada keluarga ini.
Suatu hari, menjelang
Dewi berangkat ke kantor, entah mengapa Bayu menolak
dimandikan oleh baby sitternya. Bayu ingin pagi ini dimandikan oleh Bundanya,”
Bunda aku ingin mandi sama bunda…please…please bunda”, pinta Bayu dengan
mengiba-iba penuh harap.
Karuan saja
Dewi, yang detik demi detik waktunya sangat diperhitungkan merasa gusar dengan
permintaan anaknya. Ia dengan tegas
menolak permintaan Bayu, sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan
keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Bayu agar
mau mandi dengan baby sitternya. Lagi-lagi, Bayu
dengan penuh pengertian mau menurutinya, meski wajahnya cemberut.
Peristiwa
ini terus berulang sampai hampir sepekan. “Bunda, mandikan aku !” Ayo dong bunda mandikan aku sekali
ini saja…?” kian lama suara Bayu semakin penuh tekanan. Tapi toh, Dewi dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Bayu
sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Bayu bisa ditinggal juga dan mandi
bersama Mbanya.
Sampai suatu sore, Dewi
dikejutkan oleh telpon dari sang baby sitter, “Bu, hari ini Bayu panas tinggi
dan kejang-kejang. Sekarang sedang di periksa di Ruang
Emergency”.
Dewi, ketika diberi
tahu soal Bayu, sedang meresmikan kantor barunya di
Medan. Setelah tiba di Jakarta, Dewi langsung ngebut ke UGD.
Tapi sayang… terlambat sudah…Tuhan sudah punya rencana lain. Bayu, si malaikat
kecil, keburu dipanggil pulang oleh Tuhannya.. Terlihat Dewi mengalami shock berat. Setibanya di rumah,
satu-satunya keinginan dia adalah untuk memandikan putranya, setelah bebarapa
hari lalu Bayu mulai menuntut ia untuk memandikannya,
Dewi pernah berjanji pada anaknya untuk suatu saat memandikannya sendiri jika ia
tidak sedang ada urusan yang sangat penting. Dan siang itu,
janji Dewi akhirnya terpenuhi juga, meskipun setelah tubuh si kecil terbujur
kaku.
Ditengah para tetangga
yang sedang melayat, terdengar suara Dewi dengan nada yang bergetar berkata
“Ini Bunda Nak…., Hari ini Bunda mandikan Bayu ya…sayang….! akhirnya
Bunda penuhi juga janji Bunda ya Nak..” . Lalu segera saja
satu demi satu orang-orang yang melayat dan berada di dekatnya tersebut
berusaha untuk menyingkir dari sampingnya, sambil tak kuasa untuk menahan
tangis mereka.
Ketika tanah merah
telah mengubur jasad si kecil, para pengiring jenazah masih berdiri mematung di
sisi pusara sang Malaikat Kecil. . Berkali-kali Dewi, sahabatku yang tegar itu,
berkata kepada rekan-rekan disekitanya, “Inikan sudah takdir, ya kan..!” Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang
lautan, kalau sudah saatnya di panggil, ya dia pergi juga, iya kan?”. Saya yang saat itu tepat berada di
sampingnya diam saja. Seolah-olah Dewi tak merasa berduka dengan
kepergian anaknya dan sepertinya ia juga tidak perlu
hiburan dari orang lain.
Sementara di
sebelah kanannya, Suaminya berdiri mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pucat pasi dengan bibir bergetar tak kuasa menahan air
mata yang mulai meleleh membasahi pipinya.
Sambil menatap
pusara anaknya, terdengar lagi suara Dewi berujar, “Inilah konsekuensi sebuah
pilihan!” lanjut Dewi, tetap mencoba untuk tegar dan kuat.
Angin senja
meniupkan aroma bunga kamboja yang menusuk hidung hingga ke tulang sumsum. Tak lama setelah itu tanpa di duga-duga tiba-tiba saja Dewi jatuh
berlutut, lalu membantingkan dirinya ke tanah tepat diatas pusara anaknya
sambil berteriak-teriak histeris. “Bayu maafkan Bunda ya sayaang..!!, ampuni bundamu ya nak…? serunya
berulang-ulang sambil membenturkan kepalanya ketanah, dan segera terdengar
tangis yang meledak-ledak dengan penuh berurai air mata membanjiri tanah pusara
putra tercintanya yang kini telah pergi untuk selama-lamanya.
Sepanjang
persahabatan kami, rasanya baru kali ini saya menyaksikan Dewi menangis dengan
histeris seperti ini.
Lalu terdengar lagi
Dewi berteriak-teriak histeris “Bangunlah Bayu sayaaangku….Bangun Bayu cintaku,
ayo bangun nak…..?!?” pintanya berulang-ulang, “Bunda
mau mandikan kamu sayang…. Tolong Beri kesempatan Bunda sekali saja Nak….
Sekali ini saja, Bayu.. anakku…?”
Dewi merintih mengiba-iba sambil kembali membenturkan kepalanya berkali-kali ke
tanah lalu ia peluki dan ciumi pusara anaknya bak
orang yang sudah hilang ingatan. Air matanya mengalir semakin
deras membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Bayu.
Senja semakin senyap,
aroma bunga kamboja semakin tercium kuat manusuk hidung membuat seluruh bulu
kuduk kami berdiri menyaksikan peristiwa yang menyayat hati ini…tapi apa hendak di kata, nasi sudah menjadi bubur, sesal kemudian
tak berguna. Bayu tidak pernah mengetahui bagaimana rasanya
dimandikan oleh orang tuanya karena mereka merasa bahwa banyak hal yang jauh
lebih penting dari pada hanya sekedar memandikan seorang anak.
Semoga kisah
ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua yang sering
merasa hebat dan penting dengan segala kesibukannya.