Tampilkan postingan dengan label Buddha-Meditasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buddha-Meditasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Juni 2013

Pengertian-pengertian salah mengenai meditasi vipassana

OLEH: VEN. H. GUNARATANA MAHATHERA


...
PENGERTIAN SALAH #1: MEDITASI HANYALAH SUATU TEKNIK RELAKSASI

Yang salah adalah kata 'hanya'. Relaksasi memang merupakan komponen kunci dari meditasi, tetapi meditasi vipassana mengarah pada tujuan yg jauh lebih tinggi lagi. Walaupun demikian, pernyataan itu sebenarnya berlaku juga utk banyak sistem meditasi lain. Semua sistem meditasi menekankan konsentrasi pikiran, membuat pikiran terpaku pada satu hal atau satu daerah pemikiran. Bila dilakukan secara kuat dan mendalam, anda akan mencapai relaksasi yg mendalam dan membahagiakan, yg disebut Jhana. Jhana merupakan tingkat ketenangan yg tinggi sehingga melebihi kegiuran (pitti); merupakan bentuk kesenangan yg berada diatas dan diluar apapun yg dapat dialami dalam keadaan kesadaran biasa. Kebanyakan sistem meditasi berhenti disitu, karena memang itulah tujuannya. Apabila anda dapat mencapai keadaan itu, anda lalu mengulangi pengalaman itu seumur hidup. Namun meditasi vipassana tidaklah demikian. Vipassana mencari tujuan lain, yaitu kesadaran. Konsentrasi dan relaksasi memang dianggap sebagai peserta kesadaran yg penting, karena keduanya merupakan pendahuluan yg dibutuhkan, merupakan alat yg baik, dan produk samping yg bermanfaat. Tetapi bukan itu tujuan vipassana. Tujuannya adalah pañña, atau kebijaksanaan, pandangan terang. Meditasi vipassana merupakan praktek religi mendalam yg mengarah pada kemurnian dan transformasi kehidupan anda sehari-hari.



PENGERTIAN SALAH #2: MEDITASI BERARTI MASUK KE DALAM TRANS (KEADAAN TAK SADAR)

Pernyataan itu bisa secara akurat berlaku utk sistem meditasi tertentu, tetapi TIDAK utk vipassana. Meditasi pandangan terang bukanlah suatu bentuk hipnotis. Anda tdk mencoba mengosongkan pikiran sehinga menjadi tdk sadar. Anda tdk mencoba berubah menjadi sayuran tanpa emosi. Justru sebaliknya! Anda akan menjadi makin dapat menyesuaikan diri dgn perubahan-perubahan emosi anda sendiri. Anda akan belajar mengenal diri dgn kejernihan dan ketepatan yg jauh lebih besar. Dalam mempelajari teknik ini, memang kadang terjadi keadaan-keadaan teretntu yg mungkin kelihatan seperti trans bagi orang yg melihatnya. Namun, yg terjadi sebenarnya justru kebalikannya. Pada trans hipnotis, orang berada dlm kontrol pihak lain. Sebaliknya, pada konsentrasi yg dalam, meditator tetap berada dlm kontrolnya sendiri. Kemiripannya hanya bersifat permukaannya saja, namun terjadinya fenomena ini sebenarnya bukanlah ciri vipassana. Seperti yg telah disebutkan, konsentrasi jhana yg dalam adl sarana atau batu loncatan pada jalan menuju kesadaran yg tinggi. Pada definisinya, vipassana adl pengolahan sati (perhatian yg penuh kewaspadaan), atau kesadaran. Jika ternyata anda menjadi tdk sadar di dalam meditasi, maka anda tdk sedang bermeditasi menurut definisi kata yg dipakai dlm system vipassana. Sederhana, bukan?



PENGERTIAN SALAH #3: MEDITASI MERUPAKAN PRAKTIK MISTERIUS YANG TIDAK DAPAT DIPAHAMI

Lagi-lagi hampir benar, tetapi tidak tepat. Meditasi berhubungan dgn tingkat-tingkat kesadaran yg terletak lebih dalam dibandingkan dgn pemikiran simbolis. Karena itu beberapa data tentang meditasi tdk bisa diungkapkan dgn kata-kata. Tetapi tdk lalu berarti bahwa meditasi tdk bisa dipahami. Ada cara-cara yg lebih dalam utk memahami sesuatu selain hanya dgn kata-kata saja. Anda tahu cara berjalan. Walaupun mungkin anda tdk bisa menjelaskan secara urut dimana serabut saraf dan otot anda berkontraksi selama proses itu, tetapi toh anda dapat melakukannya. Meditasi perlu dipahami seperti itu: dgn cara melakukannya. Meditasi bukanlah sesuatu utk dialami. Meditasi bukanlah suatu rumusan tanpa pemikiran yg hasilnya bersifat otomatis dan dpt diramalkan. Anda tdk akan benar-benar bisa meramalkan apa yg akan terjadi pada suatu saat tertentu. Meditasi merupakan penyelidikan, eksperimen, dan petualangan setiap kalinya. Itulah yg benar. Jadi bila anda kemudian sampai pada suatu rasa yg bisa diramalkan dan bersifat sama dlm praktik anda, hal itu dapat digunakan sebagai petunjuk. Itu berarti bahwa anda telah menyeleweng dari jalur yg benar, dan anda menuju pada stagnasi (kemandekan). Belajar utk melihat setiap detik saat –seakan-akan itu merupakan detik yg pertama dan satu-satunya di alam semesta ini- merupakan hal yg sangat penting di dalam meditasi vipassana.



PENGERTIAN SALAH #4: TUJUAN MEDITASI ADALAH MENJADI SUPERMAN PSIKIS

Tidak demikian halnya!Tujuan meditasi adl utk mengembangkan kesadaran. Belajar utk membaca pikiran bukanlah tujuannya. Melayang seperti sulap bukanlah tujuannya. Tujuannya adl pembebasan. Memang ada hubungan antara fenomena psikis dan meditasi, tetapi hubungannya agak rumit. Dalam masa-masa meditasi awal, fenomena seperti itu mungkin muncul, tetapi mungkin pula tidak. Beberapa org mungkin mengalami pemahaman intuisi atau ingatan akan kehidupan lampau tetapi tdk semua mengalaminya, pokoknya, hal-hal itu tdk dianggap sebagai kemampuan psikis yg dapat diandalkan atau yg telah berkembang baik, dan tdk sepantasnya dianggap sangat penting. Justru fenomena seperti itu sebenarnya berbahaya bagi meditator baru karena terlalu menggoda, karena hal itu bisa merupakan jebakan ego yg akan langsung membelokkan anda dari jalur. Nasihat utk itu adl: jangan menganggap penting fenomena itu. Jika datang, baik. Jika tdk datang, itu pun baik juga. Tetapi fenomena itu sering tdk datang. Ada satu titik dlm karier meditator dimana dia mungkin mempraktikkan pelatihan-pelatihan khusus utk mengembangkan kekuatan psikis. Tetapi itu terjadi kemudian. Bila dia telah memperoleh tingkat jhana yg sangat dalam, meditator sudah cukup maju utk dapat menangani kekuatan-kekuatan itu. Tidak ada lagi bahaya dia menjadi tdk terkontrol atau menjadi budak dlm kehidupan ini. Maka dia benar-benar akan mengembangkan fenomena itu hanya dgn tujuan utk membantu orang lain. Namun, keadaan-keadaan ini hanya terjadi setelah berpraktik puluhan tahun. Cukuplah bila anda berkonsentrasi utk makin mengembangkan kesadaran. Bila ada suara-suara atau bayangan penglihatan yg muncul, amatilah saja dan biarkan mereka pergi. Jangan melibatkan diri anda.



PENGERTIAN SALAH #5: MEDITASI ITU BERBAHAYA DAN ORANG BIJAK HARUS MENGHINDARINYA

Sebenarnya, segalanya itu berbahaya. Ketika menyebrang jalan, mungkin anda tertabrak bus. Ketika mandi, mungkin leher anda patah. Ketika bermeditasi, mungkin anda akan terganggu hal-hal yg buruk dari masa lampau anda. Materi yg ditekan dan telah lama terkubur disana bisa jadi sangat menakutkan, atau bisa juga sangat menguntungkan. Tdk ada aktivitas yg sepenuhnya tanpa risiko, tetapi tdk berarti kita lalu harus membungkus diri bagaikan kepompong yg harus dilindungi. Itu bukanlah kehidupan, melainkan kematian prematur. Bahaya harus diatasi dgn cara memperkirakan seberapa besar bahaya itu, dimana ia mungkin ada, dan bagaimana menanganinya bila muncul. Vipassana merupakan pengembangan kesadaran dan tdk berbahaya. Justru sebaliknya kesadaran yg meningkat merupakan penjaga yg akan melindungi kita dari bahaya. Meditasi yg dilakukan dgn benar merupakan proses yg sangat halus dan bertahap. Karena itu, lakukanlah dgn pelan dan tenang, sehingga perkembangan praktik anda terjadi dgn amat alami. Jangan ada yg dipaksakan. Nanti, dibawah bibingan guru yg kompeten, yg memiliki pengamatan yg cermat dan kebijaksanaan yg melindungi, anda dapat berkembang cepat lewat periode meditasi yg intensif. Tetapi pada tahap awal, lakukanlah dgn relaks. Bekerjalah dgn halus, dan segalanya akan berjalan baik.



PENGERTIAN SALAH #6: MEDITASI ITU UNTUK ORANG SUCI, BUKAN UNTUK ORANG BIASA

Anda banyak menjumpai sikap seperti ini di Asia, yg secara ritual memberikan penghormatan yg sangat besar kepada Bhikkhu dan orang suci. Hal ini mirip dgn sikap orang amerika dlm mengidolakan bintang film dan pahlawan baseball. Orang itu menjadi klise, diagungkan secara berlebihan dan dibebani segala macam sifat yg hanya dapat dicapai oleh beberapa manusia saja. Namun di barat pun ada sikap seperti ini terhadap meditasi. Kita mengharapkan bahwa meditator adl org yg luar biasa sucinya, sehingga mentega pun tdk berani mencair di mulutnya. Tetapi sedikit kontak pribadi dgn para meditator akan segera menghapus ilusi ini. Akan kita dapatkan bahwa para meditator ternyata justru memiliki energi dan semangat yg besar. Mereka menjalani kehidupan dgn semangat yg luar biasa. Memang benar bahwa sebagian besar orang suci selalu bermeditasi, tetapi mereka tdk bermeditasi karena mereka orang suci. Justru sebaliknya. Mereka menjadi orang suci karena bermeditasi. Meditasilah yg membuat mereka demikian. Sebelum mereka menjadi suci, mereka telah mulai bermeditasi. Kalau tdk, mereka tdk akan menjadi suci. Ini merupakan hal yg sangat penting. Banyak siswa yg berpendapat bahwa orang harus sudah sepenuhnya bermoral sebelum dia mulai bermeditasi. Ini merupakan strategi yg tdk manjur. Memang moralitas membutuhkan tingkat kontrol mental tertentu, yg merupakan prasarana. Anda tdk akan dapat mengikuti serangkaian peraturan moral bila sama sekali tdk memiliki kontrol diri. Dan jika pikiran anda terus-menerus berpusing-pusing bagaikan senjata berat di tangan bandit bertangan satu yg tdk dapat menguasainya, kontrol diri jelas tdk mungkin ada. Maka, kebudayaan mental memang harus datang terlebih dahulu.

Ada 3 faktor integral di dalam meditasi Buddhis, yaitu: moralitas (Sila), konsentrasi (Samadhi), dan kebijaksanaan (Pañña). 3 faktor ini tumbuh berbarengan, bersama dgn praktik anda yg makin dalam. Faktor yg satu mempengaruhi yg lain. Karena itu, anda sekaligus mengembangkan ketiga-tiganya, bukan satu persatu. Bila anda memiliki kebijaksanaan utk memahami situasi secara penuh, maka kasih sayang anda terhadap semua pihak otomatis akan muncul. Dgn kasih sayang ini, secara otomatis anda akan menahan diri agar tdk berpikir, berucap, atau berbuat sesuatu yg mungkin akan merugikan diri anda atau orang lain. Maka perilaku anda otomatis menjadi bermoral. Sebenarnya, anda menciptakan masalah hanya pada waktu anda tdk memiliki pemahaman secara mendalam. Jika anda tdk bisa melihat akibat dari tindakan anda, anda akan melakukan tindakan salah. Bila orang menunggu sampai sepenuhnya bermoral sebelum mulai bermeditasi, berarti dia menunggu serangkaian 'tetapi' yg tdk akan pernah datang. Oleh orang-orang suci dahulu dikatakan bahwa orang seperti itu bagaikan menunggu samudra menjadi tenang sebelum dapat mandi.

Untuk lebih memahami hubungan ini, kita harus mengetahui bahwa ada tingkat-tingkat moralitas. Tingkat moralitas terbawah adl melekati serangkaian peraturan dan hukum yg diberikan oleh pihak lain: nabi favorite anda, negara, pimpinan suku, atau ayah anda. Tdk perduli siapa yg menciptakan peraturan-peraturan itu, yg perlu anda lakukan pada tingkat ini adl mengenal peraturan dan mengikutinya. Robot pun bisa melakukannya. Bahkan seekor kera yg terlatih pun bisa, asalkan peraturan-peraturan itu cukup sederhana dan dia dipukul apabila melanggarnya. Tingkat ini tdk membutuhkan meditasi sama sekali. Yg dibutuhkan hanyalah peraturan dan orang yg mengayunkan tongkat.

Tingkat moralitas kedua adl mematuhi peraturan yg sama meskipun tdk ada orang yg akan memukul. Anda patuh karena anda telah membatinkan peraturan-peraturan itu. Anda menghukum diri sendiri setiap kali anda melanggarnya. Tingkat ini membutuhkan kontrol pikiran. Apabila pola pemikiran anda porak poranda, perilaku anda juga akan porak poranda. Kebudayaan mental mengurangi keporakporandaan mental.

Ada tingkat moralitas ketiga, yg mungkin lebih baik disebut etika. Tingkat ini akan menyebabkan suatu perubahan nyata tentang cara memandang kehidupan. Pada tingkat etika, orang tdk mengikuti peraturan-peraturan keras yg didiktekan oleh penguasa. Dia memilih perilakunya sendiri sesuai dgn kebutuhan situasi. Tingkat ini membutuhkan inteligensi yg tinggi dan kemampuan utk membaca semua faktor di dalam setiap situasi, agar sampai pada tanggapan yg benar, kreatif, dan unik setiap kalinya. Lagipula, individu yg membuat keputusan ini perlu menggalinya sendiri. Dia harus keluar dari sudut pandang pribadinya yg terbatas, dia harus melihat situasi dari titik pandang objektif, memberikan bobot yg sama pada kebutuhan diri sendiri dan kebutuhan orang lain. Dengan kata lain, dia harus bebas dari keserakahan, kebencian, iri hati dan segala macam keegoisan yg biasanya membuat kita tdk bisa melihat sudut pandang orang lain. Dengan begitu dia bisa memilih serangkaian tindakan yg tepat, yg benar-benar optimal utk situasi itu. Tingkat moralitas ini sepenuhnya membutuhkan meditasi, kecuali jika memang anda sudah terlahir sebagai orang suci. Tdk ada cara lain utk memperoleh keahlian ini. Lagipula, proses memilih yg dibutuhkan pada tingkat ini benar-benar menghabiskan energy. Jika dgn pikiran-sadar anda memcoba membaca semua faktor dlm setiap situasi, anda akan menjadi sangat lelah. Intelek tdk mampu menangani "bola di udara" sebanyak itu sekaligus. Itu merupakan beban yg berlebihan. Untungnya, tingkat kesadaran yg lebih dalam dapat melakukan proses ini dgn mudah. Meditasi dpt menjalankan proses pemilihan utk anda. Luar biasa bukan?

Suatu hari anda mendapat masalah, misalnya saja menangani perceraian paman herman lagi. Tampaknya persoalan itu sama sekali tdk dpt diatasi, krn ada sekian banyak 'kemungkinan' yg bahkan raja sulaiman pun akan kehilangan akal. Namun ketika keesokan harinya ketika anda sedang mencuci piring, sedang memikirkan sesuatu yg lain sama sekali, tiba-tiba muncullah jalan keluarnya. Jalan keluar itu begitu saja muncul dari pikiran yg dalam dan anda berkata, 'AHA!". Lalu segalanya beres! Intuisi seperti ini hanya dapat terjadi bila anda keluar dari sirkuit logika masalah, sehingga pikiran yg dalam memiliki kesempatan utk menggarap jalan keluarnya. Pikiran-sadar justru malah menghalanginya. Meditasi mengajarkan jalan keluar dari kerumitan proses berpikir ini. Meditasi merupakan seni mental utk keluar dari jalannya sendiri, dan meditasi merupakan ketrampilan yg sangat bermanfaat di dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja meditasi bukan praktik yg tdk relevan, yg khusus hanya utk para pertapa dan orang yg suka menyiksa diri saja. Meditasi merupakan ketrampilan praktis yg berfokus pada kejadian sehari-hari dan langsung dapat diterapkan di dalam kehidupan setiap orang. Meditasi tdk berurusan dgn dunia lain.

Sayangnya justru fakta inilah yg malahan menyebabkan beberapa siswa mundur. Mereka memasuki praktik dgn harapan bahwa tabir kosmos akan terbuka seketika, lengkap dgn paduan suara malaikatnya. Sedangkan biasanya hasil yg mereka peroleh adl cara yg lebih efisien utk mengeluarkan sampah mental serta cara yg lebih baik utk menangani 'paman herman'. Sebenarnya mereka tdk perlu kecewa. Penanganan samaph mental ini justru lebih penting. Suara-suara malaikat akan datang kemudian



PENGERTIAN SALAH #7: MEDITASI BERARTI MELARIKAN DIRI DARI REALITAS

Tidak benar! Meditasi adl lari masuk ke dalam realitas. Meditasi tdk mengisolasi anda dari rasa sakit kehidupan. Meditasi membuat anda bisa secara mendalam berkecimpung di dalam kehidupan dgn segala aspeknya, sehingga anda menembus batas rasa sakit dan kemudian keluar dari penderitaan. Vipassana merupakan praktik yg dilakukan dgn tujuan khusus yaitu, menghadapi realitas, sepenuhnya menjalani kehidupan sebagaimana adanya dan menangani apapun yg anda temukan. Meditasi membuat anda bisa meniup hilang semua ilusi dan membebaskan diri dari semua kebohongan sopan yg selalu anda lakukan. Apa yg ada disana memang ada disana. Anda adl anda, dan berbohong dgn diri sendiri –tentang kelemahan dan motivasi anda sendiri- justru akan lebih erat mengikat anda pada roda ilusi. Meditasi vipassana bukanlah suatu usaha utk melupakan diri atau utk menutup-nutupi masalah anda. Meditasi berarti melihat diri anda sendiri persis seperti apa adanya. Lihatlah apa yg ada! Terimalah sepenuhnya! Hanya dgn demikian anda dapat mengubahnya.



PENGERTIAN SALAH #8: MEDITASI ADALAH CARA YANG AMPUH UNTUK MERASA DI AWANG-AWANG

Bisa ya dan bisa tidak. Meditasi memang kadang-kadang memberikan perasaaan indah yg membahagiakan. Tetapi bukan itu tujuannya, dan itu tdk selalu terjadi. Lagipula, jika anda melakukan meditasi dgn tujuan demikian di dalam pikiran anda, maka kemungkinan terjadinya justru lebih kecil dibandingkan jika anda hanya bermeditasi dgn tujuan meditasi yg benar, yaitu meningkatnya kesadaran. Rasa senang berasal dari relaksasi, dan relaksasi berasal dari hilangnya ketegangan. Mencari rasa senang dari meditasi justru akan memberikan ketegangan ke dalam proses itu, dan ketegangan akan membubarkan seluruh rangkaian. Proses itu menjadi lingkaran setan, kejar-mengejar yg tak ada habisnya. Anda akan mendapatkan perasaan yg membahagiakan justru bila anda tdk mengejarnya. Lagipula jika anda hanya bermaksud mengejar perasaan yg menyenangkan, perasaan yg aduhai, ada cara lain yg lebih gampang utk memperolehnya. Semuanya tersedia di kedai minum dan dari wanita-wanita di sudut gelap yg ada dimana-mana. Perasaan gembira yg luar biasa bukanlah tujuan meditasi. Memang hal itu sering terjadi, tetapi harus dianggap hanya sebagai produk samping belaka. Walaupun demikian, memang itu merupakan akibat samping yg sangat menyenangkan, yg akan makin sering terjadi jika anda pun makin sering bermeditasi. Anda tdk akan mendengar sanggahan tentang hal ini dari orang yg sudah maju praktiknya.



PENGERTIAN SALAH #9: MEDITASI ITU EGOIS

Memang kelihatannya demikian. Meditator hanya duduk, parkir di bantalnya yg kecil. Apakah dia menyumbangkan darah? Tidak. Apakah dia sibuk bekerja utk para korban bencana? Tidak. Tetapi marilah kita memeriksa motivasinya. Mengapa dia melakukan hal ini? Dia bertujuan utk memerangi pikirannya sendiri yg dipenuhi kemarahan, syak wasangka, dan niat buruk. Secara aktif dia terlibat di dalam proses utk menghilangkan keserakahan, ketegangan, dan ketidakpekaan, yg merupakan penghalang utk kasih sayangnya pada orang lain. Sampai penghalang-penghalang itu pergi, perbuatan baik apapun yg dilakukannya kemungkinan besar hanya merupakan perpanjangan dari egonya sendiri. Pada akhirnya perbuatan itu tdk benar-benar merupakan bantuan sejati. Salah satu permainan ego yg paling tua adl merugikan orang dgn dalih membantu. Dahulu, para penyelidik kejam yg bekerja utk Dinas Penyelidikan Spanyol menggembar-gemborkan motif yg luhur. Pengadilan sihir Salem dilakukan atas nama kepentingan umum. Cobalah periksa kehidupan pribadi meditator yg sudah maju. Sering akan anda dapatkan bahwa mereka terlibat dlm pelayanan manusiawi. Anda jarang mendapatkan meditator sebagai misionaris perang yg mau mengorbankan individu tertentu demi suatu ide yg luhur. Pada kenyataannya, sebenarnya kita ini lebih egois daripada yg kita tahu. Bila dibiarkan bebas, ego mempunyai cara utk mengubah aktivitas yg luhur menjadi sampah. Lewat meditasilah kita bisa menjadi sadar tentang diri kita sendiri, persis sebagaimana adanya. Hal itu dilakukan dgn menyadari cara-cara halus yg kita gunakan utk mewujudkan keegoisan kita. Dgn demikian, barulah kita benar-benar mulai menjadi tdk egois. Menyucikan diri anda dari keegoisan bukanlah tindakan yg egois.



PENGERTIAN SALAH #10: KETIKA BERMEDITASI, ANDA DUDUK MEMIKIRKAN BUAH-BUAH PIKIR YANG AGUNG

Salah lagi! Memang ada sistem tertentu yg merenungkan hal-hal seperti itu, tetapi itu bukan vipassana. Vipassana merupakan praktik kesadaran; kesadaran tentang apapun yg ada, walaupun itu kebenaran agung atau sampah yg tak berharga. Apa yg ada, itu yg ada. Tentu saja, buah-buah pikir yg agung mungkin muncul selama praktik. Jelas itu semua tdk harus dihindari. Namun tdk juga harus diburu. Semua hanyalah akibat samping yg menyenangkan. Vipassana adl praktik yg sederhana. Vipassana berarti mengalami peristiwa kehidupan anda sendiri secara langsung, tanpa rasa lebih-suka, tanpa bayangan mental yg melekat padanya. Vipassana berarti melihat tanpa prasangka bagaimana kehidupan anda terlepas dari bungkusnya, dari saat ke saat. Apa yg muncul, itu yg muncul. Sederhana sekali.



PENGERTIAN SALAH #11: BERMEDITASI BEBERAPA MINGGU AKAN MELENYAPKAN SEMUA MASALAH

Maaf, meditasi bukanlah obat mujarab seketika utk semua masalah. Memang anda akan langsung dapat mulai melihat perubahan, tetapi hasil-hasilnya yg mendalam baru terjadi setelah bertahun-tahun. Sama seperti bagaimana alam semesta ini terbentuk. Tak ada sesuatu yg berharga yg dapat diperoleh dlm waktu semalam. Dalam banyak hal, meditasi memang berat. Dibutuhkan disiplin yg panjang, dan kadang-kadang terjadi proses praktik yg menyakitkan. Setiap kali anda duduk, sebenarnya anda memperoleh hasil, tetapi hasilnya sangat halus. Semuanya terjadi jauh di dalam pikiran, dan mewujudkan diri jauh di kemudian hari. Jika anda duduk, terus-menerus mencari perubahan besar yg mendadak, anda malahan tdk akan dapat melihat berbagai perubahan halus yg sebenarnya sudah terjadi. Lalu anda merasa patah semangat, menyerah, dan bersumpah bahwa perubahan-perubahan seperti itu tdk akan pernah terjadi. Kesabaranlah kuncinya. Kesabaran. Sekalipun anda tdk mempelajari hal lain di dalam meditasi, setidak-tidaknya anda belajar kesabaran. Dan itulah pelajaran paling berharga yg ada.

Anapanasati (Meditasi Pernafasan)

Pada kesempatan ini kami ingin menjelaskan instruksi dasar mengenai bagaimana cara mengembangkan konsentrasi dengan ānāpānasati (perhatian pada napas).

Ada dua jenis meditasi: Samatha dan Vipassanā.
Samatha adalah pengembangan konsentrasi, dan Vipassanā adalah pengembangan kebijaksanaan. Samatha merupakan fondasi yang sangat penting untuk Vipassanā. Dalam Khandha Samyutta dan Sacca Samyutta, Budd...ha mengatakan:

Samādhi§, bhikkhave, bhāvetha.
Samāhito, bhikkhave, bhikkhu yathābhuta§ pajānāti.

Artinya:
Para bhikkhu, tumbuh kembangkan konsentrasi.
Dengan konsentrasi, para bhikkhu, seorang bhikkhu melihat segala fenomena sebagaimana adanya.

Inilah sebabnya para pemula sangat dianjurkan untuk berlatih Samatha terlebih dahulu, untuk mengembangkan konsentrasi yang kuat dan mendalam. Lalu kemudian bisa berlatih Vipassanā, untuk melihat sifat alami dari segala fenomena.

Ada 40 latihan Samatha, tetapi kami biasanya mengajarkan ānāpānasati (perhatian pada napas) kepada para pemula karena kebanyakan yogi berhasil dengan cara itu.

Dalam Samyutta Nikaya, Buddha menyanjung ānāpānasati:
*) Para bhikkhu, konsentrasi melalui perhatian pada napas, ketika dikembangkan dan dilatih dengan baik, akan sangat tenang dan damai. Itu adalah ketenangan murni, dan seketika menjauhkan serta menekan pikiran buruk yang tidak bermanfaat.

**) Visuddhimagga juga mengatakan:
Perhatian pada napas sebagai latihan meditasi adalah yang paling utama di antara latihan meditasi dari semua Buddha, (beberapa) Pacekka Buddha, dan (beberapa) murid Buddha sebagai dasar untuk memperoleh ketenangan murni seketika.

* S.V.X.i.9 ‘VesālīSutta’ (‘Vesali Sutta’)

**Vs.VIII ‘Anussati Kammaññhāna Niddesa (‘Recollection Subjects Explanation’ Ñ145)

Langkah dasar dalam melatih ānāpānasati adalah sebagai berikut:

Langkah Pertama:

Duduk tegak. Silakan memilih posisi duduk yang nyaman dan sesuai dengan diri anda. Jika merasa kesulitan, tidak perlu duduk melipat kaki (bersila). Anda juga boleh duduk dengan dua kaki bersebelahan di atas tanah (tidak saling menekan). Duduk di atas alas dengan ketebalan yang sesuai akan membantu anda lebih nyaman, dan membuat anda mudah meluruskan tubuh bagian atas.
Selanjutnya rilekskan tubuh anda bagian demi bagian, dari kepala hingga kaki. Sampai tidak ada ketegangan di bagian manapun dari tubuh anda. Jika masih ada ketegangan, cobalah untuk melunturkannya, sehingga menjadi rileks dan alami.Jika tidak, ketegangan itu akan menyebabkan ketidaknyamanan dan rasa sakit. Jadi pastikan untuk merilekskan seluruh tubuh setiap kali anda mulai meditasi duduk.

Langkah Kedua:
Kesampingkan semua pemikiran, termasuk semua kekhawatiran dan perencanaan. Anda harus merefleksi pada kenyataan bahwa segala sesuatu yang berkondisi adalah tidak kekal. Mereka tidak akan mengikuti keinginan anda tetapi akan mengikuti alur mereka sendiri. Tiada guna mencoba mencengkeram mereka. Jadi sangat bagus untuk mengesampingkan mereka selama anda bermeditasi.
Kapanpun anda terperangkap dalam pemikiran-pemikiran, anda harus mengingatkan diri anda bahwa saat ini bukanlah waktu bagi anda untuk kuatir, sekarang adalah waktu bagi anda untuk menjaga pikiran anda hanya pada satu objek meditasi: napas. Jika anda mengingat sesuatu yang sangat penting, dan berpikir anda harus mengingatnya terus menerus, jangan lakukan itu pada saat meditasi. Jika perlu, anda bisa mencatat hal penting tersebut di sebuah buku catatan yang senantiasa anda bawa, dan kemudian tidak memikirkan itu lagi selama anda meditasi.
Jika anda benar-benar ingin berhasil dalam ānāpānasati, anda harus mengesampingkan semua objek lain. Beberapa yogi ingin mengembangkan konsentrasi, tetapi tidak bisa melepaskan keterikatan pada banyak hal duniawi. Hasilnya, pikiran mereka menjadi gelisah, selalu berkeliaran antara napas dan hal-hal duniawi. Meski mereka berusaha keras menenangkan pikiran mereka, mereka gagal: hanya karena mereka tidak mampu melepaskan keterikatan mereka pada objek lain. Keterikatan seperti itu adalah halangan besar bagi kemajuan meditasi seseorang.

Langkah Ketiga:
Biasakan diri dengan napas melalui latihan. Setelah anda merilekskan tubuh anda, dan telah berhasil membereskan semua pemikiran lain, anda harus mengarahkan pikiran anda pada area di mana keluar dan masuknya napas: titik persentuhan. Itu adalah area di sekitar lubang hidung dan di atas bibir atas. Cobalah untuk merasakan napas pada salah satu dari dua tempat itu. Kemudian jaga pikirin tetap pada napas, dan menyadarinya sepanjang waktu. Anda harus coba mengenali napas alami secara jujur, seolah anda adalah seorang pengamat. Jangan mengendalikan atau mengatur napas alami: cukup mengetahui sebagaimana adanya. Jika anda mengendalikan napas anda, anda mungkin merasa tidak nyaman di dada.
Satu hal penting adalah bahwa anda hanya memperhatikan titik persentuhan napas yang anda tentukan, bahwa anda tidak mengikuti napas masuk ke dalam atau napas keluar dari tubuh anda. Jika anda mengikuti napas ke dalam dan keluar dari tubuh, anda tidak akan bisa memantapkan konsentrasi anda.
Untuk menjelaskan hal ini, Visuddhimagga memberikan sebuah perumpamaan: perumpamaan dari penjaga gerbang. Seorang penjaga gerbang tidak memberi perhatian pada orang-orang yang telah masuk ke dalam atau sudah keluar dari kota: dia memberi perhatian hanya pada orang-orang yang tiba di gerbang. Dalam hal yang sama, napas yang telah masuk ke dalam dan telah keluar bukanlah urusan bagi yogi. Urusannya hanya pada napas yang tiba di titik persentuhan (gerbang). Hal penting lain adalah bahwa anda janganlah berkonsentrasi pada karakteristik empat unsur pada napas anda. Anda janganlah berkonsentrasi pada karakteristik dari unsur tanah pada napas (kekerasan, kekasaran, berat, lembut, halus atau ringan), juga tidak pada karakteristik dari unsur air (terapung dan peleburan), tidak pula pada karakteristik unsur api (panas dan dingin), pun tidak pada karakteristik unsur angin pada napas (mendorong dan menahan).
Jika anda berkonsentrasi pada salah satu dari karakeristik di atas, karakteristik lain juga akan menjadi semakin jelas pada tubuh anda, dan akan menganggu konsentrasi anda. Apa yang harus anda lakukan adalah hanya mengetahui napas. Anda harus mengetahui napas sebagai sebuah pengertian umum.
Ada kalanya seorang yogi akan menemui kesulitan untuk memperhatikan napas. Ini bukan karena dia tidak lagi bernapas: itu karena napas telah menjadi lembut, dan dia masih belum terbiasa akan hal itu. Akan tetapi, dia harus tetap menjaga pikirannya pada titik persentuhan dengn pikiran tenang dan siaga. Saat menjadi sulit baginya mengamati napas, dia tidak perlu melakukan hal lain selain mengetahui bahawa dia masih bernapas. Lalu, dengan kesabaran dan perhatia, dia akan perlahan bisa

mengetahui napas yang lembut tersebut. Jika dia mencoba terus menerus, dia akan terbiasa untuk berkonsentrasi terhadap napas lembut tersebut. Itu akan sangat membantunya untuk mengembangkan konsentrasi mendalam.
Ketika mencoba membiaskan diri dengan napas, anda harus mengikuti jalan tengah: anda harus mengupayakan usaha yang cukup. Jangan terlalu banyak usaha, karena anda mungkin kemudian akan bermasalah dengan ketegangan, sakit kepala dan mata yang terasa tertarik. Dan juga, jangan mengupayakan usaha yang terlalu sedikit, karena anda nanti akan melamun atau jatuh tertidur.

Jadi bagus sekali jika anda memastikan bahwa usaha anda telah cukup untuk anda bisa selalu mengetahui keberadaan napas.
Ketika pemikiran hadir dalam pikiran anda, abaikan saja dan arahkan kembali pikiran anda kepada napas. Tidak ada gunanya kesal pada pemikiran-pemikiran yang muncul atau pada diri anda sendiri. Anda harus bisa menerima bahwa kehadiran pemikiran-pemikiran dalam pikiran adalah hal yang alami, dan seharusnya tidak terjebak di dalamnya. Dengan mengabaikan pemikiran-pemikiran, anda menjauhkan diri dari mereka. Dan dengan selalu mengetahui keberadaan napas, anda membuat diri anda terbiasa dengan napas.
Begitulah cara yang tepat mengatasi pemikiran-pemikiran yang berkeliaran. Jika pikiran anda berkeliaran terlalu sering, anda bisa membantunya tetap memperhatikan napas dengan mencatat: ketika mengetahui napas masuk-keluar, catat sebagai: ‘masuk-keluar; masuk-keluar; masuk-keluar…’.
Anda juga bisa menghitung napas, dengan cara, ketika menghirup napas, anda catat: ‘masuk’; saat menghembuskan napas, anda catat ‘keluar’, dan pada akhir dari napas keluar anda hitung ‘satu’.

Anda dapat menghitung dengan cara ini setidak-tidaknya sampai 5, tetapi tidak lebih dari 10. Sebagai contoh, jika anda memilih untuk menghitung hingga 8, anda harus menghitung dari 1 ke 8 lagi dan lagi. Tetapi, saat menghitung napas, objek anda haruslah tetap pada napas, bukan pada nomor yang anda hitung. Penomoran hanya sebagai alat untuk membantu anda tetap bersama napas. Anda harus melanjutkan menghitung sampai pikiran menjadi tenang dan stabil. Kemudian anda bisa berhenti menghitung, dan hanya mengetahui napas masuk dan keluar.

Langkah Kempat:
Fokus pada napas. Ketika anda bisa menyadari napas terus menerus selama 15-20 menit, anda bisa dikatakan telah mulai terbiasa dengan napas. Anda bisa mulai untuk lebih fokus, lebih konsentrasi terhdapa napas. Pada tahap sebelumnya, ketika anda menyadari napas, anda juga mengetahui titip persentuhan. Tapi pada tahap ini, anda coba untuk mengabaikan titik persentuhan, dan fokus hanya pada napas. Dengan melakukannya, pikiran anda akan semakin terkonsentrasi. Jika, bagaimanapun, anda lakukan itu terlalu dini (sebelum anda terbiasa dengan napas), anda akan mengalami ketegangan di seluruh wajah anda.

Langkah Kelima:
Ketika anda konsentrasi berkelanjutan pada napas selama lebih dari 30 menit, konsentrasi anda bisa dikatakan cukup baik. Sekarang anda harus mencoba untuk konsentrasi pada keseluruhan napas dari awal hingga akhir. Pada satu titik, anda berkonsentrasi pada napas masuk dari tahap paling awal sampai pada tahap paling akhir. Lalu, dari titik yang sama, anda berkonsentrasi pada napas keluar, dari tahapa paling awal hingga tahap paling akhir. Cara ini, tidak ada jeda, pikiran tidak bisa kabur dan berkeliaran, dan konsentrasi anda akan menjadi lebih dalam dan lebih dalam.
Anda akan menemukan bahwa napas anada terkadang panjang dan terkadang pendek. Panjang pnedk di sini maksudnya durasi, bukan jarak. Ketika proses bernapas anda lambat, napas anda panjang; ketika proses napas cepat, napas anda pendek. Anda harus membiarkannya sebagaimana adanya: anda tidak boleh membuatnya panjang atau pendek secara sengaja. Anda cukup hanya tau keseluruhan napas, entah itu panjang atau pendek.
Jika anada bertahan dalam mempraktekkan cara ini, konsentrasi anda akan perlahan menjadi stabil. Ketika anda bisa konsentrasi pada napas terus menerus selama lebih dari satu jam pada setiap kali duduk meditasi, selama tiga hari berturut-turut, anda akan melihat napas anda segera menjadi nimitta, petanda dari konsentrasi.

Rangkuman:
Ada beberapa dasar dalam melatih ānāpānasati. Anda harus mengingatnya dan melatihnya secara bertahap. Anda harus melatihnya dalam berbagai posisi. Jangan hentikan latihan anda ketika sesi meditasi duduk berakhir. Ketika membuka mata anda, merilekskan kaki, berdiri dsb., cobalah lanjutkan memperhatikan napas. Ketika berdiri, berjalan, berbaring dsb., cobalah selalu memperhatikan napas anda.
Jangan biarkan pikiran anda memperhatikan objek lain. Buatlah celah/ jeda dalam latihan anda semakin sedikit. Jika anda berlatih sepanjang waktu, maka nantinya akan hampir tidak ada jeda. Anda harus berlatih dengan rajin dan giat dengan cara ini, dari waktu anda bangun di pagi hari, sampai anda tertidur di malam hari. Jika bisa anda melakukannya, anda bisa saja berhasil mencapai jhāna pada akhir retreat. Itulah sebabnya Buddha mengatakan ānāpānasati harus dikembangkan dan dilatih sesering mungkin.
Anda harus berhenti bicara, terutama di dalam kamar: anda boleh bicara hanya pada saat melaporkan dan berkonsultasi pengalaman meditasi anda kepada guru pembimbing jika diperlukan. Menyelenggarakan pelatihan (retreat) meditasi tidak mudah. Panitia dan sukarelawan mengalami banyak kesulitan untuk membuat segala sesuatu nyaman dan sesuai untuk meditasi. Para donatur mempersembahkan dana dengan harapan mulia bahwa setiap yogi dapat sukses dalam meditasi, dan dengan begitu memperoleh kebajikan yang besar. Maka dari itu, ada banyak alasan bagi anda untuk belarih dengan tekun.
Tetapi, tentu saja jangan berharap segalanya akan sempurna. Anda harus menghargai segala kenyamanan yang anda terima, dan berlapang dada terhadap kondisi kurang nyaman yang anda hadapi. Daripada berkeluh kesah, jagalah pikiran anda agar selalu bersama napas. Mulailah dari saat ini.

Semoga anda semua berhasil dalam meditasi.

Pa-Auk Tawya Sayadaw

Pa-Auk Forest Monastery

Mawlamyine, Mon State, Myanmar

Sumber : http://hadayavatthu.org/full-width-page/penjelasan-anapanasati

 

Kamis, 30 Mei 2013

Tentang rasa sakit dalam meditasi

Oleh Fabian Chandra

Mereka yang telah mencoba bermeditasi terhadap "rasa sakit" yang merupakan bagian dari vedananupassana, mengerti bahwa ini merupakan realita, dan salah satu objek dalam Vipassana....

Sebenarnya dalam Sallatha Sutta ini sudah jelas merupakan keterangan Sang Buddha terhadap praktik yang sesungguhnya meditasi terhadap rasa sakit....
Namun bagi mereka yang belum pernah mengalami akan sulit diterangkan, karena berada di luar jangkauan pengetahuan mereka....

(Saḷāyatanavagga) Vedanāsaṃyutta )
Anak Panah

Para bhikkhu, kaum duniawi yang tidak terlatih merasakan perasaan yang menyenangkan, perasaan yang menyakitkan, dan perasaan yang bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan. Siswa mulia yang terlatih juga merasakan perasaan yang menyenangkan, perasaan yang menyakitkan, dan perasaan yang bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan.>>>
---
Ini adalah penjelasan awal yang menerangkan bahwa ada tiga macam perasaan, yaitu perasaan menyenangkan, perasaan tidak menyenangkan dan perasaan netral.....
---

"Oleh karena itu, apakah perbedaan, ketidaksamaan, yang membedakan antara kaum duniawi yang tidak terlatih dengan siswa mulia yang terlatih?”

“Yang Mulia, ajaran kami berakar dalam Sang Bhagavā, dituntun oleh Sang Bhagavā, dilindungi oleh Sang Bhagavā. Sudilah Sang Bhagavā menjelaskan makna dari pernyataan ini. Setelah mendengarkan

dari Beliau, para bhikkhu akan mengingatnya.”
“Maka dengarkan dan perhatikanlah, para bhikkhu, Aku akan menjelaskan.”
“Baik, Yang Mulia,” para bhikkhu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
“Para bhikkhu, ketika kaum duniawi yang tidak terlatih tersentuh oleh perasaan jasmani yang menyakitkan, ia bersedih, berduka, dan meratap; ia menangis dan memukul dadanya dan menjadi kebingungan. Ia merasakan dua perasaan – perasaan jasmani dan perasaan batin.
Misalkan mereka menembaknya dengan sebatang anak panah, dan kemudian mereka menembaknya lagi dengan anak panah ke dua, sehingga orang itu akan merasakan perasaan yang ditimbulkan oleh dua anak panah itu.
Demikian pula, ketika kaum duniawi yang tidak terlatih tersentuh oleh perasaan jasmani yang menyakitkan … perasaan jasmani dan perasaan batin.>>>
---
Disini Sang Buddha menerangkan bahwa meditator yang belum terlatih ketika menghadapi perasaan yang menyakitkan batinnya terbawa, ia merasakan sakit yang luar biasa, hal ini disebabkan batin yang bereaksi terhadap perasaan sakit yang muncul tersebut, sehingga sakitnya terasa lebih hebat lagi....
Para meditator Vipassana yang telah terlatih juga mengalami perasaan sakit jasmani, tapi batin tidak ikut merasa sakit....
----

Ketika tersentuh oleh perasaan menyakitkan yang sama itu, ia memendam keengganan terhadapnya. Ketika ia memendam keengganan terhadap perasaan menyakitkan, kecenderungan tersembunyi keengganan bersembunyi di balik ini.

Karena tersentuh oleh perasaan menyakitkan, ia mencari kesenangan di dalam kenikmatan indria. Karena alasan apakah? Karena kaum duniawi yang tidak terlatih tidak mengetahui jalan membebaskan diri dari perasaan menyakitkan selain kenikmatan indria. Ketika ia mencari kesenangan di dalam kenikmatan indria, kecenderungan tersembunyi nafsu terhadap perasaan menyenangkan bersembunyi di balik ini.>>>
----
Dalam praktik Vipassana yang sesungguhnya kesenangan indera ini bukanlah hanya sekedar keinginan indera yang kita kenal secara umum....
Pada praktik meditasi Vipassana yang sesungguhnya seorang meditator seringkali harus menghadapi rasa tidak menyenangkan yang timbul, umpamanya rasa kesemutan, baal (mati rasa) dan bahkan rasa itu berubah menjadi rasa sakit yang tak tertahankan.
Merupakan kecenderungan manusia pada umumnya yang menginginkan kenyamanan, terbebas dari rasa yang tidak menyenangkan, inilah yang dimaksud dengan keengganan terhadap rasa sakit.
Umat awam berusaha terbebas dari rasa sakit dengan berusaha mencari kesenangan atau kenyamanan indera...

Kenikmatan indera yang diharapkan pada praktik meditasi dapat  berupa terbebas dari kesakitan jasmani yang bisa berupa keinginan menyudahi latihan, keinginan menyudahi sesi duduknya atau keinginan terhadap kesenangan indera yang lebih halus/lebih kecil umpamanya berupa keinginan "menggeser sedikit" posisinya agar mendapatkan keadaan yang sedikit lebih nyaman....

Inilah yang sering tidak diketahui oleh meditator, bahwa keinginan indera belum tentu merupakan keinginan makan enak dsbnya, keinginan indera kadang hanya merupakan keinginan yang mendambakan kenyamanan yang halus.... Yang tersembunyi karena halus....
----

Ia tidak memahami sebagaimana adanya asal-mula dan lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan jalan membebaskan diri sehubungan dengan tiga perasaan ini. Ketika ia tidak memahami hal-hal ini, kecenderungan tersembunyi kebodohan sehubungan dengan perasaan bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan bersembunyi di balik ini.

“Jika ia merasakan perasaan yang menyenangkan, ia merasakannya dengan melekat. Jika ia merasakan perasaan yang menyakitkan, ia merasakannya dengan melekat, Jika ia merasakan perasaan yang bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan, ia merasakannya dengan melekat. Ini, para bhikkhu, disebut kaum duniawi yang tidak terlatih yang melekat pada kelahiran, penuaan, dan kematian; yang melekat pada kesedihan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan; yang melekat pada penderitaan,>>>
----
Di sini seorang meditator yang menghadapi rasa sakit seringkali enggan berhadapan dengan rasa sakit tersebut, disebabkan mereka tidak mengetahui cara yang benar menghadapi rasa sakit tersebut.

Rasa sakit memang tidak nyaman, tidak menyenangkan, tapi rasa sakit sebenarnya hanyalah fenomena yang timbul lenyap sepanjang waktu. Kecenderungan batin semua mahluk adalah untuk mengambil sebanyak-banyaknya hal-hal yang menyenangkan dan menolak semua hal-hal yang menyakitkan.

Cara yang baik dalam menghadapi rasa sakit adalah memperhatikan dengan penuh perhatian, janganlah menganggap bahwa rasa sakit tersebut merupakan bagian dari tubuh kita, tapi perhatikanlah proses rasa sakit itu sendiri yang terlepas dari segala hal (hanya proses rasa sakit yang sedang berlangsung yang harus diperhatikan).

Dengan demikian kita telah berlatih melihat rasa sakit dengan prinsip "melihat segala sesuatu apa adanya (yatha butha nanadassana)"

Demikian juga dalam menghadapi rasa sakit kita juga cenderung menolak "rasa sakit" tersebut.
Padahal rasa sakit merupakan "tools yang baik" yang dapat membantu meningkatkan konsentrasi kita.
Dalam menghadapi rasa sakit yang benar kita jangan menolak, karena penolakan terhadap rasa sakit merupakan bentuk kemelekatan juga. Penolakan terhadap rasa sakit akan membuat rasa sakit akan semakin kuat.

Kita jarang menyadari bahwa batin kita cenderung melekat bukan hanya kepada hal-hal yang menyenangkan, tapi juga kepada hal-hal yang tak menyenangkan.
Sebagai contoh, bagi "seorang pendendam" sulit sekali melepaskan kemelekatan batin mereka terhadap rasa benci kepada seseorang.
Demikian juga umpamanya sakit gigi, dapatkah anda melepaskan kemelekatan batin anda untuk tak merespon rasa sakit tersebut....? Tak bisa bukan...? Ini disebabkan batin anda melekat terhadap rasa sakit tersebut....

Jadi sebenarnya inilah yang dimaksud bahwa kemelekatan terhadap hal-hal yang menyenangkan atau hal-hal yang tak menyenangkan yang akan membawa kita pada kelahiran kembali, penuaan dll...
---

Aku katakan.
“Para bhikkhu, ketika siswa mulia yang terlatih tersentuh oleh perasaan yang menyakitkan, ia tidak bersedih, berduka, atau meratap; ia tidak menangis dan memukul dadanya dan menjadi kebingungan.
Ia merasakan satu perasaan – perasaan jasmani, bukan perasaan batin.

Misalkan mereka menembaknya dengan sebatang anak panah, tetapi mereka tidak menembaknya lagi dengan anak panah kedua, sehingga orang itu akan merasakan perasaan yang ditimbulkan oleh hanya satu anak panah. Demikian pula, ketika siswa mulia yang terlatih tersentuh oleh perasaan jasmani yang menyakitkan … ia hanya merasakan satu perasaan – perasaan jasmani, bukan perasaan batin.>>>
----
Paragraf ini menjelaskan bahwa bagi seorang meditator yang telah terlatih, mereka "mampu" mengalami rasa sakit tanpa batinnya terseret oleh rasa sakit tersebut.
Bagaimana bisa terjadi demikian...?
Pada meditator yang telah berlatih dengan tekun maka lama kelamaan ia akan mampu melihat suatu proses tanpa mengaitkan proses tersebut terhadap persepsi apapun.

Umpamanya ia melihat rasa sakit di kaki, walaupun rasa sakit yang terjadi di kaki, tapi yang ia lihat hanya proses fenomena jasmani tersebut (hanya proses sensasi yang timbul tenggelam) yang tidak lagi terkait dengan kaki....

Demikian juga ia melihat rasa sakit tersebut tanpa terkait dengan perasaan suka-tidak suka....
Lama-lama ia mampu melihat perasaan sakit yang timbul dengan netral, inilah yang dikatakan bahwa  akhirnya ia mampu juga melihat semua proses yang terjadi pada batin-jasmaninya dengan seimbang.....
Dan dikatakan bahwa ia telah mengatasi rasa sakit.....
---

Ketika tersentuh oleh perasaan menyakitkan yang sama itu, ia tidak memendam keengganan terhadapnya. Karena ia tidak memendam keengganan terhadap perasaan menyakitkan, kecenderungan tersembunyi keengganan tidak bersembunyi di balik ini.

Karena tersentuh oleh perasaan menyakitkan, ia tidak mencari kesenangan di dalam kenikmatan indria. Karena alasan apakah? Karena siswa mulia yang terlatih mengetahui jalan membebaskan diri dari perasaan menyakitkan selain kenikmatan indria.>>>
----
Seorang meditator yang telah terlatih, mampu "melihat rasa sakit, tanpa merasa sakit".
Tentu saja kemampuan ini tak dapat muncul begitu saja, kemampuan ini memerlukan latihan yang tekun, dengan sabar mengamati penolakan-penolakan batin, sementara tetap memperhatikan proses (hanya proses) timbul-lenyapnya rasa sakit tersebut.

Hingga akhirnya perasaan sakit itu tak lagi mempengaruhi batin meditator.
Dengan cara ini akhirnya meditator Vipassana melenyapkan kemelekatan terhadap batin-jasmani....
---

Karena ia tidak mencari kesenangan di dalam kenikmatan indria, kecenderungan tersembunyi nafsu terhadap perasaan menyenangkan tidak bersembunyi di balik ini. Ia memahami sebagaimana adanya asal-mula dan lenyapnya, kepuasan, bahaya, dan jalan membebaskan diri sehubungan dengan tiga perasaan ini. Karena ia memahami hal-hal ini, kecenderungan tersembunyi kebodohan sehubungan dengan perasaan bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan tidak bersembunyi di balik ini.>>>
---
Bagian ini saya kira sudah jelas, bahwa karena ia hanya melihat rasa sakit adalah suatu proses yang berdiri sendiri, suatu fenomena yang berdiri sendiri, maka kemelekatan batin terhadap rasa sakit menjadi terputus, dengan terputusnya kemelekatan batin terhadap rasa sakit, maka meditator melihat dengan "tidak timbul" perasaan suka-tidak suka. Keadaan inilah yang disebut ia "melihat hanya melihat".
---

Jika ia merasakan perasaan yang menyenangkan, ia merasakannya dengan tidak melekat. Jika ia merasakan perasaan yang menyakitkan, ia merasakannya dengan tidak melekat. Jika ia merasakan perasaan yang bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan, ia merasakannya dengan tidak melekat. Ini, para bhikkhu, disebut siswa mulia yang terlatih yang tidak melekat pada kelahiran, penuaan, dan kematian; yang tidak melekat pada kesedihan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan, dan keputusasaan; yang tidak melekat pada penderitaan, Aku katakan.>>>
---
Inilah yang dikatakan Sang Buddha secara implisit merupakan salah satu faktor yang dapat membawa pada penghentian kemelekatan terhadap kelahiran, penuaan dan kematian (Nibbana).

Inilah Sutta yang menjelaskan mengapa seorang Samanera Arahat yang berumur 7 (tujuh) tahun (kisahnya ada dalam Dhammapad Atthakatha) Tidak menangis atau bersedih, atau meratap dan mengerjakan pekerjaannya seperti biasa, padahal bola matanya ketika itu lepas dari rongga matanya karena tertusuk kipas dan darah bercucuran keluar dari rongga matanya.
---

Ini, para bhikkhu, adalah perbedaan, ketidaksamaan, yang membedakan antara kaum duniawi yang tidak terlatih dengan siswa mulia yang terlatih.”
Yang bijaksana, terpelajar, tidak merasakan perasaan [batin] yang menyenangkan dan menyakitkan.
Ini dalah perbedaan besar antara Yang bijaksana dan kaum duniawi.>>>
---
Yang bijaksana dan terpelajar disini dimaksudkan adalah mereka yang berlatih Vipassana.
Kemampuan melihat rasa sakit tanpa merasa sakit ini muncul ketika meditator telah mencapai tingkat pengetahuan/konsentrasi setingkat Sankharupekkha nana.
---

Karena yang terpelajar yang telah memahami Dhamma, Yang melihat dengan jelas dunia ini dan dunia berikutnya,
Hal-hal yang tidak disukai tidak memancing pikirannya, Terhadap yang tidak disukai, ia tidak memendam keengganan.>>>
---
Bagian ini menjelaskan bahwa bagi seorang meditator yang telah mencapai tingkatan ini ia memiliki sikap batin upekkha yang seimbang terhadap hal-hal yang menyenangkan atau tak menyenangkan.

Dengan kata sakit jasmani dapat timbul, tapi batin tidak merespon rasa sakit tersebut..... Oleh karena itu melihat sakit jasmani yang timbul tanpa merasa sakit....
---

Baginya ketertarikan dan kejijikan tidak ada lagi; Keduanya telah dipadamkan, diakhiri.
Setelah mengetahui kondisi yang bebas-dari-debu, tanpa kesedihan,
Yang melampaui kehidupan memahami dengan benar.>>>
---

Akhir dari Sutta ini menjelaskan mereka yang telah sepenuhnya terlepas dari perasaan senang tidak senang, batin yang sama-sekali tidak lagi merespon fenomena apapun yang muncul dengan perasaan suka-tak suka / senang tak senang, batin seorang Arahat yang telah terbebas.

Semoga penjelasan ini dapat membantu pengertian teman-teman terhadap cara mengatasi rasa sakit dalam Vipassana....

***

About

Pengikut