Sabtu, 15 Juni 2013

Empat Kebenaran Mulia

Sumber: Anggutara Nikaya 3

 

“Ketika dikatakan: ‘”Ini adalah empat kebenaran mulia”: ini, para bhikkhu, adalah Dhamma yang diajarkan olehku yang ini tidak dapat dibantah, tidak kotor, tidak dapat disalahkan, dan tidak dapat dicela oleh para petapa dan brahmana bijaksana,’ karena alasan apakah hal ini dikatakan? Dengan bergantung pada enam landasan maka munculnya embrio [di masa depan] terjadi. Ketika munculnya embrio itu terjadi, maka ada nama-dan-bentuk; dengan nama-dan-bentuk sebagai kondisi, maka ada enam landasan indria; dengan enam landasan indria sebagai kondisi, maka ada kontak; dengan kontak sebagai kondisi, maka ada perasaan. Sekarang adalah bagi seorang yang merasakan maka Aku menyatakan: ‘Ini adalah penderitaan,’ dan ‘Ini adalah asal-mula penderitaan,’ dan ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan,’ dan ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan,’


“Dan apakah, para bhikkhu, kebenaran mulia penderitaan? Kelahiran adalah penderitaan, penuaan adalah penderitaan, penyakit adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan; dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan kesengsaraan adalah penderitaan; tidak mendapatkan apa yang diinginkan adalah penderitaan; singkatnya, kelima kelompok unsur kehidupan yang tunduk pada kemelekatan adalah penderitaan. Ini disebut kebenaran mulia penderitaan.


“Dan apakah, para bhikkhu, kebenaran mulia asal-mula penderitaan? Dengan ketidak-tahuan sebagai kondisi, maka [muncul] aktivitas-aktivitas berkehendak; dengan aktivitas-aktivitas berkehendak sebagai kondisi, maka kesadaran; dengan kesadaran sebagai kondisi, maka nama-dan-bentuk; dengan nama-dan-bentuk sebagai kondisi, maka enam landasan indria; dengan enam landasan indria sebagai kondisi, maka kontak; dengan kontak sebagai kondisi, maka perasaan; dengan perasaan sebagai kondisi, maka ketagihan; dengan ketagihan sebagai kondisi, maka kemelekatan; dengan kemelekatan sebagai kondisi, maka penjelmaan; dengan penjelmaan sebagai kondisi, maka kelahiran; dengan kelahiran sebagai kondisi, maka penuaan dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan kesengsaraan. Demikianlah asal-mula keseluruhan kumpulan penderitaan ini. Ini disebut kebenaran mulia asal-mula penderitaan.


“Dan apakah, para bhikkhu, kebenaran mulia lenyapnya penderitaan? Dengan peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya ketidak-tahuan maka lenyap pula aktivitas-aktivitas berkehendak; dengan lenyapnya aktivitas-aktivitas berkehendak, maka lenyap pula kesadaran; dengan lenyapnya kesadaran, maka lenyap pula nama-dan-bentuk; dengan lenyapnya nama-dan-bentuk, maka lenyap pula enam landasan indria; dengan lenyapnya enam landasan indria, maka lenyap pula kontak; dengan lenyapnya kontak, maka lenyap pula perasaan; dengan lenyapnya perasaan, maka lenyap pula ketagihan; dengan lenyapnya ketagihan, maka lenyap pula kemelekatan; dengan lenyapnya kemelekatan, maka lenyap pula penjelmaan; dengan lenyapnya penjelmaan, maka lenyap pula kelahiran; dengan lenyapnya kelahiran, maka lenyap pula penuaan dan kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan kesengsaraan. Demikianlah lenyapnya keseluruhan kumpulan penderitaan ini. Ini disebut kebenaran mulia lenyapnya penderitaan.


“Dan apakah, para bhikkhu kebenaran mulia jalan menuju lenyapnya penderitaan? Adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini, yaitu, pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar. Ini disebut kebenaran mulia jalan menuju lenyapnya penderitaan.


“Ketika dikatakan: ‘”Ini adalah empat kebenaran mulia”: ini, para bhikkhu, adalah Dhamma yang diajarkan olehKu yang tidak dapat dibantah, tidak kotor, tidak dapat disalahkan, dan tidak dapat dicela oleh para petapa dan brahmana bijaksana,’ adalah karena ini maka hal itu dikatakan.”

Alasannya berkurangnya populasi penduduk

Sumber: Anggutara Nikaya 3

 

Seorang brahmana kaya mendatangi Sang Bhagavā … dan berkata kepada Beliau:


“Guru Gotama, aku telah mendengar para brahmana yang lebih tua yang berusia lanjut, terbebani tahun demi tahun, guru-guru dari para guru, mengatakan: ‘Di masa lalu dunia ini berpopulasi sangat padat sehingga seseorang mungkin berpikir bahwa tidak ada jarak antara orang-orang. Desa-desa, pemukiman-pemukiman, dan kota-kota besar begitu berdekatan sehingga ayam-ayam jantan dapat menerbangi antara tempat-tempat itu.’ Mengapakah, Guru Gotama, pada masa sekarang ini jumlah penduduk berkurang, pengurangan populasi terlihat, dan desa-desa, pemukiman-pemukiman, kota-kota, dan daerah-daerah telah lenyap?”


“Pada masa sekarang, Brahmana, orang-orang tergerak oleh nafsu terlarang, dikuasai oleh keserakahan yang tidak selayaknya, didera oleh Dhamma palsu. Sebagai akibatnya, mereka mengambil senjata-senjata dan saling membunuh satu sama lain. Karena itu banyak orang yang mati. Ini adalah alasan mengapa pada masa sekarang ini jumlah penduduk berkurang, berkurangnya populasi terlihat, dan desa-desa, pemukiman-pemukiman, kota-kota, dan daerah-daerah telah lenyap.

 

“Kemudian, pada masa sekarang, Brahmana, orang-orang tergerak oleh nafsu terlarang, dikuasai oleh keserakahan yang tidak selayaknya, didera oleh Dhamma palsu. Ketika hal ini terjadi, hujan yang turun tidak mencukupi. Sebagai akibatnya, bencana kelaparan terjadi. Karena itu banyak orang yang mati. Ini adalah alasan lain mengapa pada masa sekarang ini jumlah penduduk berkurang, berkurangnya populasi terlihat, dan desa-desa, pemukiman-pemukiman, kota-kota, dan daerah-daerah telah lenyap.


“Kemudian, pada masa sekarang, Brahmana, orang-orang tergerak oleh nafsu terlarang, dikuasai oleh keserakahan yang tidak selayaknya, didera oleh Dhamma palsu. Ketika hal ini terjadi, para yakkha melepaskan makhluk-makhluk buas. Karena itu banyak orang yang mati. Ini adalah alasan lain lagi mengapa pada masa sekarang ini jumlah penduduk berkurang, pengurangan populasi terlihat, dan desa-desa, pemukiman-pemukiman, kota-kota, dan daerah-daerah telah lenyap.


“Bagus sekali, Guru Gotama! … Sudilah Guru Gotama menganggapku sebagai seorang umat awam yang telah berlindung sejak hari ini hingga seumur hidup.”

 

Kamis, 13 Juni 2013

Ketenangan dan Pandangan Terang

Anggutara Nikaya 2

 

Bab 3

“Para bhikkhu, kedua hal ini berhubungan dengan pengetahuan sejati. Apakah dua ini? Ketenangan dan pandangan terang. Ketika ketenangan terkembang, manfaat apakah yang dialami seseorang? Pikirannya terkembang. Ketika pikirannya terkembang, manfaat apakah yang ia alami? Nafsu ditinggalkan. Ketika pandangan terang terkembang, manfaat apakah yang ia alami? Kebijaksanaan terkembang. Ketika kebijaksanaan terkembang, manfaat apakah yang ia alami? Ketidak-tahuan ditinggalkan.

“Pikiran yang dikotori oleh nafsu adalah tidak terbebaskan, dan kebijaksanaan yang dikotori oleh ketidak-tahuan adalah tidak terkembang. Demikianlah, para bhikkhu, melalui meluruhnya nafsu maka ada kebebasan pikiran, dan melalui meluruhnya ketidak-tahuan maka ada kebebasan melalui kebijaksanaan.”

 

Bab 19

“Para bhikkhu, demi pengetahuan langsung pada nafsu, maka dua hal harus dikembangkan. Apakah dua ini? Ketenangan dan pandangan terang. Demi pengetahuan langsung pada nafsu, dua hal ini harus dikembangkan.”

“Para bhikkhu, demi pemahaman penuh pada nafsu … demi kehancuran nafsu sepenuhnya … demi ditinggalkannya nafsu … demi hancurnya nafsu … demi hilangnya nafsu … demi peluruhan nafsu … demi lenyapnya nafsu … demi berhentinya nafsu … demi terlepasnya nafsu, maka dua hal harus dikembangkan. Apakah dua ini? Ketenangan dan pandangan terang. Demi terlepasnya nafsu, dua hal ini harus dikembangkan.”

“Para bhikkhu, demi pengetahuan langsung … demi pemahaman penuh … demi kehancuran total … demi ditinggalkannya … demi hancurnya … demi hilangnya … demi peluruhan … demi lenyapnya … demi berhentinya … demi terlepasnya kebencian … delusi … kemarahan … permusuhan … meremehkan … menghina … iri … kekikiran … kecurangan … muslihat … kekeras-kepalaan … keberapi-apian … keangkuhan … kesombongan … kemabukan … kelengahan, maka dua hal harus dikembangkan. Apakah dua ini? Ketenangan dan pandangan terang. Demi terlepasnya kelengahan, dua hal ini harus dikembangkan.”

About

Pengikut