Minggu, 12 Mei 2013

Manfaat Pelimpahan Jasa

Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Thera

Di dalam tradisi kita sebagai umat Buddha, memperingati upacara kematian atau memperingati saat-saat kematian orang yang kita sayangi, saat-saat wafat orang yang kita cintai sesungguhnya telah dimulai sejak jaman Sang Buddha. Tentu saja bukan hanya dengan mengirim makanan, mengirim pakaian kepada orang tua atau almarhum. Ada beberapa hal yang memang diajarkan oleh Sang Buddha dalam upacara peringatan kematian seperti hari ini. Ada dua cerita yang berkembang dalam masyarakat Buddhis. Cerita yang pertama telah sering kita dengar yaitu cerita seorang murid Sang Buddha yang paling sakti, yang paling hebat, bernama Bhante Moggalana. Dalam bahasa Mandarin, cerita ini dikenal sebagai Mu Lien Ciu Mu (Y.M. Moggalana menolong ibunya). Cerita inilah yang paling dikenal masyarakat luas. Padahal cerita itu tidak terdapat dalam Tripitaka. Menurut cerita ini, pada waktu sedang bermeditasi, Bhante Moggalana mempergunakan kemampuan batinnya untuk melihat alam-alam lain selain alam manusia. Memang bagi kita yang sudah biasa melatih meditasi, sebetulnya melihat alam lain bukanlah sesuatu hal yang luar biasa. Melihat alam surga, melihat alam neraka bukanlah sesuatu yang sulit. Surga 26 tingkat pun bisa dilihat satu demi satu. Tidak ada masalah. Pada waktu itu Bhante Moggalana melihat surga, tempat para dewa dan dewi yang lebih dikenal orang dengan istilah 'malaikat'. Selain itu, beliau juga melihat ke alam-alam menderita, alam setan, setan raksasa yang kita sebut Asura, setan kelaparan atau alam peta dan juga alam neraka. Bhante Moggalana dengan prihatin melihat alam-alam menderita yang sangat menyedihkan ini. Di salah satu alam setan kelaparan, Bhante Moggalana melihat ibunya terlahir di situ. Di sana, terlihat ibunya dalam keadaan kurus kering dan telanjang bulat. Bhante Moggalana merasa sangat kasihan sekali kepada ibunya. Beliau berusaha menolong ibunya. Beliau mencoba memberikan makanan dan minuman kepada ibunya. Namun, segala pemberian beliau bukannya menolong ibunya; pemberiannya justru menambah penderitaan ibunya. Karena kebingungan atas kegagalannya menolong sang ibu, Bhante Moggalana menghadap Sang Buddha. Bhante Moggalana bertanya kepada Sang Buddha tentang sebab musabab kegagalan usaha pertolongannya kepada ibunya. Sang Buddha menjelaskan bahwa bila akan menolong makhluk di alam menderita hendaknya orang melakukannya dengan cara pelimpahan jasa. Pelimpahan jasa adalah melakukan suatu perbuatan baik atas nama orang yang telah meninggal yang akan ditolong. 

Oleh karena itu, Bhante Moggalana kemudian disarankan oleh Sang Buddha untuk memberikan persembahan jubah dan makanan kepada pada bhikkhu Sangha atas nama ibunya. Nasehat Sang Buddha ini diikuti oleh Bhante Moggalana. Beberapa waktu kemudian Bhante Moggalana mengundang para bhikkhu, mempersembahkan dana makan, mempersembahkan jubah, kemudian melakukan pelimpahan jasa atas nama ibunya. Setelah melaksanakan upacara pelimpahan jasa, Bhante Moggalana bermeditasi lagi. Dengan mata batinnya beliau mencari ibunya di alam peta. Ketika bertemu, keadaan ibunya jauh berbeda. Ibunya kini kelihatan segar, sehat, awet muda, pakaiannya bagus, rapi dan bersih. Melihat hal itu, Bhante Moggalana berbahagia. Berdasarkan cerita itulah orang mengenal upacara pelimpahan jasa. Upacara pelimpahan jasa iini juga sering dihubungkan dengan tradisi mendoakan para makhluk menderita yang dilaksanakan setiap tanggal 15 di bulan 7 menurut penanggalan Imlek. Itulah cerita tradisi.

Bila cerita di atas adalah merupakan cerita yang berkembang dalam tradisi masyarakat tertentu, maka ada cerita lain yang memang terdapat dalam kitab suci Tri Pitaka. Kitab Suci Tri Pitaka memberikan cerita dengan versi lain tentang upacara pelimpahan jasa. Cerita ini berhubungan dengan raja Bimbisara. Raja Bimbisara suatu ketika mengundang Sang Buddha dan seluruh bhikkhu ke istana. Raja dalam kesempatan itu mempersembahkan dana makan serta jubah. Setelah berdana, raja merasakan kebahagiaan. Para bhikkhu pun lalu pulang ke vihara bersama dengan Sang Buddha. Raja Bimbisara sangat berbahagia pada hati itu, karena dia punya kesempatan mengundang Sang Buddha ke istana. Akan tetapi pada malam harinya raja memperoleh banyak gangguan dari para makhluk tak tampak. Ia banyak mendengar jeritan dan tangisan dari makhluk tak tampak. Raja akhirnya tidak dapat tidur semalaman. Pada pagi keesokan harinya raja Bimbisara segera pergi ke vihara, bertemu dengan Sang Buddha. Sang raja bertanya kepada Sang Buddha tentang gangguan yang dialaminya, padahal ia baru saja melakukan perbuatan baik. 

Sang Buddha menerangkan bahwa para makhluk yang mengganggu itu sebenarnya adalah sanak keluarga raja sendiri dari banyak kehidupan yang lalu. Namun, karena mereka telah melakukan kesalahan, mereka kemudian terlahir di alam menderita, alam setan kelaparan. Oleh karena itu, Sang Buddha kemudian menyarankan kepada raja agar ia sekali lagi mengundang para bhikkhu ke istana. Bila para bhikkhu telah sampai di istana, raja hendaknya mempersembahkan dana makanan dan jubah atas nama para makhluk menderita yang pernah menjadi saudaranya itu. Keesokan harinya, raja Bimbisara mengundang para bhikkhu dan Sang Buddha untuk menerima persembahan dana makan dan jubah. Kemudian jasa kebaikannya dilimpahkan kepada mereka. Para makhluk menderita itu merasakan pula kebahagiaan yang luar biasa. Kebahagiaan inilah yang menyebabkan mereka mati dari alam menderita dan terlahir kembali di alam bahagia.

Dalam kesempatan itulah Sang Buddha membabarkan Tirokuddha Sutta. Sang Buddha bersabda bahwa di dinding-dinding, di gerbang-gerbang, di persimpangan-persimpangan jalan banyak keluarga kita yang terlahir di alam menderita menunggu kebaikan hati kita. Mereka menanti pelimpahan jasa kita dengan penuh kesedihan. Ketika sanak keluarganya berpesta pora dan menikmati kebahagiaan, tidak ada satu pun di antara mereka yang diingat. Padahal di sana tidak ada perdagangan, tidak ada warung dan restoran. Lalu bagaimana caranya kita menolong mereka? Kita bisa menolong mereka dengan melakukan kebaikan, dan melimpahkan jasanya kepada mereka.

Dalam masyarakat, pelimpahan jasa kadang-kadang dihubungkan dengan tradisi melakukan upacara tertentu pada bulan tujuh menurut penanggalan Imlek. Padahal menurut agama Buddha sebetulnya pelimpahan jasa tidak harus menunggu bulan tujuh. Sebab, belum tentu pada bulan tujuh nanti kita masih tetap hidup! Kalau kita juga ikut meninggal, justru malahan kitalah yang menerima pelimpahan jasa! Sebetulnya pelimpahan jasa bisa dilaksanakan setiap saat, bahkan setiap malam pun kita bisa merenung. 'Semoga dengan semua kebaikan yang telah saya lakukan sampai malam hari ini, almarhum papa dan mama memperoleh kebahagiaan sesuai dengan kondisi karmanya saat ini.' Kenapa dipilih 'bulan tujuh', ini tentu ada sebabnya. Dasar pemilihan ini dari kebiasaan Tiongkok. Bulan tujuh adalah bulan pergantian musim. Kita pun dapat melihat di Indonesia kalau pada Bulan Tujuh udara sangatlah dingin, bulan menggigil! Oleh karena itu, dalam bulan ini cukup banyak orang yang sakit. Karena banyaknya orang sakit maka para orang tua jaman dahulu menganggapnya sebagai banyaknya gangguan setan. Setan yang mengganggu berasal dari neraka yang, katanya, sedang 'dibuka'. Oleh sebab itu, para leluhur kita dahulu kemudian melakukan upacara tertentu agar tidak memperoleh bencana karena gangguan para setan tadi. Itulah, secara singkat, awal munculnya tradisi upacara di bulan tujuh tanggal lima belas. Secara Agama Buddha, sekali lagi, pelimpahan jasa dapat dilakukan setiap saat, tanpa harus menunggu bulan-bulan tertentu.

Apakah pelimpahan jasa itu masih bermanfaat bila dilakukan di jaman sekarang ini? Masih! Ada kisah nyata. Ada seorang samanera yang ibunya meninggal dunia. Karena dia Buddhis, dia mengerti bagaimana caranya berbuat baik. Dia mengundang seorang bhikkhu dengan satu samanera yang lain lagi untuk membacakan Paritta. Setelah selesai dia mempersembahkan dana. Di sini ada baiknya disebutkan jumlahnya karena jumlahnya ini berhubungan dengan cerita ini. Mereka masing-masing mendapatkan selembar amplop yang berisi Rp. 5000,00. Beberapa hari kemudian samanera yang mengadakan pelimpahan jasa itu menceritakan bahwa ibunya telah mendatanginya lewat mimpi. Dalam mimpi, ibunya mengatakan kini ia telah mempunyai uang. Ibunya, dalam mimpi, menunjukkan uang dua lembar @ Rp. 5000,00!

Ada cerita yang lain lagi. Ada seorang ibu yang sudah lama menjadi janda. Suatu malam suaminya datang dalam mimpi dan meminta selembar baju. Setelah bangun, sang istri kemudian pergi ke pasar untuk membeli kain yang seukuran suaminya, juga yang warna dan motifnya yang disenangi suaminya. Si istri kemudian meletakkan semuanya itu di meja penghormatan yang ada foto almarhum di atasnya. Dia kemudian membaca Paritta. Selesai ber-Paritta dia mengatakan: 'Niat saya hari ini mau berdana, atas nama suami saya, semoga dengan kekuatan kebaikan ini suami saya memperoleh kebahagiaan sesuai dengan kondisi karmanya saat ini.' Sesudah selesai, kainnya ini tidak dibakar, tetapi didanakan kepada salah seorang pengurus Vihara atas nama almarhum suaminya. Seminggu kemudian ibu ini mimpi lagi suaminya datang. Suaminya puas dengan pemberian bajunya, hanya saja ia mengeluh kalau ukuran bajunya tidak sesuai, kekecilan. Ibu ini terbangun, kemudian merenungkan arti mimpinya. Dia teringat bahwa ketika membeli kain ukurannya sama dengan ukuran suaminya, padahal orang yang menerima dana badannya lebih besar daripada suaminya. Pantas kekecilan! Keesokan harinya, istri yang setia ini pergi ke pasar lagi untuk membeli kain kekurangannya, dan dia berikan kepada penjaga vihara itu. Penjaga vihara itu justru heran atas pengertian si ibu. Ia baru saja akan menghubungi si ibu karena kainnya memang kurang ukurannya.

Dari cerita ini jelas kelihatan bahwa sebetulnya pelimpahan jasa secara Buddhis itu dapat diterima oleh para makhluk yang kita kirimi. Hanya saja, syaratnya makhluk itu harus terlahir di alam Paradatupajivika Peta. Kalau dia tidak terlahir di alam itu, kalau dia terlahir di salah satu dari 26 alam surga, atau terlahir di alam neraka, maka makhluk ini tidak bisa menerima pelimpahan jasa kita. Kalau demikian, apakah manfaat bagi kita membacakan Paritta untuk makhluk yang tidak terlahir di alam peta tersebut? Apabila orang yang meninggal itu tidak terlahir di alam Peta tersebut, minimal selama kita membacakan Paritta seperti hari ini, selama itu pula pikiran, ucapan serta perbuatan kita dipupuk untuk sesuatu yang baik, mendoakan agar almarhum berbahagia. Kenal atau pun tidak kenal kepadanya kita tetap mendoakan semoga almarhum berbahagia. Maka selama setengah jam itu, pikiran, ucapan dan perbuatan kita telah melaksanakan kebaikan. Bayangkan kalau pagi setengah jam, malam setengah jam lagi, berarti hari ini kita punya satu jam yang berisi pikiran, ucapan, dan perbuatan kita baik. Kalau tiap pagi dan malam kita bisa membaca Paritta setengah jam, maka dalam satu bulan kita dapat mengumpulkan sekitar 30 jam untuk berpikir dan berbuat yang baik. Luar biasa, begitu besar kesempatan melakukan perbuatan baik. Hanya dengan membaca Paritta saja! Cobalah bila kita duduk selama satu jam. Pikiran dengan mudah mengembara kemana-mana. Kadang timbul pikiran baik, tetapi tidak jarang muncul pikiran jahat. Tetapi dengan diisi kegiatan membaca Paritta, maka pikiran, ucapan serta perbuatan kita otomatis terisi pula dengan kebaikan. Satu jam setiap hari, 30 jam satu bulannya kita berkesempatan mengembangkan kebaikan hanya dengan membaca Paritta. Oleh karena itu, seringlah membaca Paritta, apalagi pada upacara-upacara semacam ini. Bagus. Dalam upacara ini, selain kita telah melaksanakan kebaikan dengan membaca Paritta, kita juga dapat melimpahkan jasa kebaikan itu kepada almarhum. Bukankah kita dengan mambaca Paritta berarti tealh berbuat baik? Datang dari tempat yang jauh khusus untuk membacakan Paritta. Kita pun juga bisa melimpahkan jasa itu kepada sanak-keluarga kita sendiri yang sudah meninggal. Sanak keluarga kita yang terdiri dari kakek-nenek, orang tua maupun para leluhur dan kerabat kita lainnya. Mereka juga perlu kita berikan pelimpahan jasa agar mereka berbahagia. Jadi, pelimpahan jasa dapat dilaksanakan oleh siapa pun dan kapan pun juga. Karena pelimpahan jasa ini akan membawa manfaat baik bagi yang meninggal maupun kita yang hidup.

Mara

by Huang Amada


Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 57 berikut :

Mara tak dapat menemukan jejak mereka yang memiliki sila, yang hidup tanpa kelengahan, dan yang telah terbebas melalui Pengetahuan Sempurna.

(Dhammapada, Bab 3, Pikiran (Citta Vagga), Syair 57, Kisah Godhika Thera)

Mara? Apakah Itu? Apakah sejenis Iblis/Setan atau mahluk halus sebagamana layaknya sosok antagonis dari kalangan Abrahamic? Atau apakah itu merupakan sifat/perilaku Negatif?

Artikel dibawah ini, merupakan sebuah jawaban atas Fitnah yang selalu dialamatkan kepada Mara yang telah terjadi selama ratusan tahun mungkin juga ribuan tahun, sekaranglah saatnya untuk kita mengetahui arti sebenar-benarnya dari Mara itu!

* * *
Yang pasti adalah Mara bukanlah termasuk kelompok setan/Iblis, jin ataupun mahluk halus. Mara banyak di sebut-sebut dalam literatur Buddhis, beberapa konfirmasi di bawah ini menunjukan bahwa Mara adalah jelas bukan sosok Iblis namun termasuk kelompok para Dewa!

"Ananda, ada delapan macam perhimpunan, yaitu Perhimpunan para kesatriya, para brahmana, orang-orang berumah tangga, para pertapa, para dewa Catummaharajika, para dewa Tavatimsa, para Mara dan para dewa Brahma.”
(Digha Nikaya, Maha Vagga, 16. Mahaparainibanna Suta, Bab III, Delapan Macam Perhimpunan, no. 21, CV. Lovina Indah, Jakarta 1989)

Dan juga pada kutipan berikut:

“Sariputta ada delapan kelompok. Apakah delapan kelompok itu? Kelompok kesatria, brahmana, perumah-tangga, petapa, dewa Catummaharajika, dewa Tavatimsa, Mara dan Brahma.”

(Digha Nikaya, Maha Vagga, MAHASIHANADA SUTTA (12), Attha Parisa (Delapan Kelompok), Sumber : Kumpulan Sutta Majjhima Nikaya I Oleh : Team Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha, Penerbit : Proyek Sarana Keagamaan Buddha Departemen Agama RI, 1993)
Konfirmasi dari literatur di atas sudah menggambarkan dengan jelas bahwa Mara termasuk pada kelompok para Dewa yang berada hanya satu tingkat di bawah Brahma. Mara merupakan Dewa dari alam Kamaloka. Alam kamaloka terbagi dua, yaitu alam Sugati (kesenangan) dan alam Dugati (Penderitaan). Alam tempat Dewa mara tinggal berada pada kelompok alam Sugati yang disebut sebagai alam Dewa Paranimmitavasavatti.

Dimana alam Dewa Paranimmitavasavatti itu berada?

Alam Dewa Paranimmitavasavatti adalah Alam Dewa tertinggi di Kamaloka dan letaknya persis satu tingkat lebih rendah dari alam Dewa Brahma tingkat yang terendah, yaitu alam Dewa Brahma Parisajja.

Mara juga dinamakan Vasavatti atau “Ia yang memimpin/memerintah semuanya”. Nama itu bukanlah tanpa sebab karena Ia adalah raja diraja penguasa alam Kamaloka!

Alam Dewa Paranimmitavasavatti berada 4 (empat) tingkat lebih tinggi dari Alam dewa Tãvatimsa, di mana Dewa Sakka/Sakra/Indra tinggal. Bahkan alam Dewa TUSITA, yaitu tempat di mana Calon Buddha Matreya dan juga Ibunda dari Sidharta Gautama tinggal, berada 2 (dua) tingkat lebih rendah dari alam Dewa Mara ini!

Bukankah hebat Karma yang pernah diperoleh oleh Dewa Mara Vasavatti tersebut!

Kelompok Dewa terendah kedua dalam jajaran alam Sugati, adalah Cātummahārājika, tempat berdiamnya Empat raja langit (Empat Maharaja).

Para gandarwa, Naga, Kumbhandas, Yaksa dan Garuda adalah pasukan dari Empat raja langit dan mereka termasuk didalam kelompok dewa jadi jelas pula bahwa mereka bukan termasuk kelompok jin, setan dan/atau mahluk halus

Urutan paling boncel di jajaran alam Sugati diduduki oleh alam Asura. Jadi, dikisahkan bahwa dahulunya asura berada di alam Dewa Tãvatimsa. Demi menjaga martabat para Dewa dan Bidadari yang berada di Alam Dewa Tãvatimsa maka Dewa Sakka terdahulu, pernah mengeluarkan larangan untuk minum semacam anggur, karena dapat memabukan. Dalam satu perayaan, yaitu ketika Dewa Sakka saat ini menjadi bosnya para dewa alam Dewa Tãvatimsa, terdapat sekelompok dewa, yang kelak dinamakan asura, kedapatan tengah bermabuk-mabukan. Saat itu pula-lah sekawanan dewa pemabuk itu digelandang dan diusir dari alam Dewa Tãvatimsa.

Para Asura, kerap merindukan indahnya kehidupan alam Tãvatimsa dan ada niatan mereka untuk kembali / merebut alam Tãvatimsa dan mengakibatkan banyak perang di antara 2 (dua) kelompok itu. Perang yang banyak terjadi itu akhirnya berakhir ketika Dewa Sakka jatuh cinta pada suja, putri raja Asura. Dari semua bakal calon yang berhasrat mempersunting putri raja Asura itu, Suja akhirnya memilih untuk menikah dengan Dewa Sakka.

Jadi, Asura-pun termasuk kelompok para Dewa. Sedangkan, para Jin/mahluk halus berada pada kelompok alam Dugati (alam Penderitaan) bersama dengan kelompok binatang dan alam Neraka.

Walaupun terdapat banyak literatur yang menyatakan bahwa alam Manussa (meliputi semua bentuk kehidupan manapun yang memiliki jati diri dan kemampuan seperti kita para manusia) termasuk ke dalam kelompok alam Sugati, namun demikian terdapat beberapa hal yang patut dipertimbangkan yaitu:

Manusia bukan termasuk kelompok Dewa sehingga default system kelahiran kita adalah tidak langsung dapat menjadi sakti kecuali kasuistik sehingga untuk dapat menjadi sakti dan berkemampuan seperti Dewa atau bahkan melebihinya (dalam kasus menjadi Sammasambudda dan Arahat yang mempunyai Abbhina) maka manusia perlu belajar dan berlatih.
Banyak dikatakan bahwa terlahir kembali menjadi manusia merupakan suatu keberuntungan karena berkesempatan untuk menapak jenjang tingkatan kesucian 1 s/d 4 yang hanya dapat dicapai justru mulai dari alam Manusia sampai ke alam di atasnya namun demikian Buddha berulang-ulang kali kerap menyatakan bahwa hidup di dunia ini merupakan penderitaan karena mengalami (sakit, mati dan tua).
Umur menikmati kesengsaraan adalah sama sebentarnya dengan umur menikmati kesenangan, kecuali kasuistik di mana terdapat segelintir orang yang dapat menikmati kesenangan sejak dilahirkan hingga mati walaupun masih tidak terhindar dari perasaan kesusahan, sakit, tua dan mati. Terlebih banyak daripada itu adalah mereka-mereka yang selalu berada dalam keadaan kesusahan
Umur menikmati karma baik adalah sangat singkat, namun demikian saat seseorang mencapai tingkat Arahat ia-pun hanya sebentar untuk menunggu agar dapat menikmati vipakanya (karma/buah) pencapaiannya dibandingkan dengan saat ia menjadi Arahat di alam Dewa yang membutuhkan waktu tunggu jauh lebih panjang bahkan sampai dengan jutaan tahun untuk dapat menikmati buahnya.
Atas dasar itulah, maka Aku lebih suka untuk menggolongkan alam Manussa sebagai alam pertengahan antara alam Sugati dan Dugati.

Si cacing dan kotoran kesayangannya

Ada sepenggal cerita indah mengenai dua bhikkhu yang tinggal bersama dalam sebuah biara selama bertahun-tahun; mereka adalah teman baik. Kemudian mereka meninggal dunia selang beberapa bulan satu sama lain. Salah satu dari mereka lahir kembali di alam surga, bhikkhu yang lain lahir kembali sebagai cacing dalam tumpukan kotoran. Yang berada di alam surga itu bersenang-senang, menikmati semua kesenangan surgawi. Tetapi ia mulai berpikir tentang temannya, "Aku ingin tahu di mana sahabat lama saya berada sekarang?" 
Jadi ia memindai semua alam surga, tapi tidak bisa menemukan jejak temannya. Kemudian ia mengamati alam manusia, tetapi ia tidak bisa melihat jejak teman di sana. Jadi dia melihat ke dalam dunia hewan dan kemudian serangga. Akhirnya dia menemukannya, temannya d$ilahirkan kembali sebagai cacing dalam tumpukan kotoran ...
 
Wah Dia berpikir: "Aku akan membantu teman saya. Aku akan pergi ke sana ke tumpukan kotoran dan membawanya ke alam surgawi sehingga ia juga bisa menikmati kenikmatan surgawi dan kebahagiaan hidup di alam indah ini."
 
Jadi dia pergi ke tumpukan kotoran dan memanggil temannya. Dan cacing kecil merayap keluar dan berkata: "Siapa kau?"
"Saya teman Anda. Kita pernah menjadi biarawan bersama di kehidupan sebelumnya, dan Aku datang untuk membawa Anda ke alam surga di mana kehidupan itu indah dan bahagia."
 
Tetapi si cacing berkata: "Pergilah, pergi sana!"
"Tapi saya teman Anda, dan aku tinggal di alam surga," dan ia menggambarkan keindahan alam surga kepadanya. Tetapi cacing berkata: "Tidak terima kasih, saya sangat bahagia di sini di tumpukan kotoran. Harap pergi." 
Kemudian dewa tersebut berpikir: "Yah kalau aku bisa menangkapnya dan membawanya ke alam surga, ia akan bisa melihat sendiri keindahan dan kebahagiaan di alam surga."
 
Jadi ia memegang si cacing dan mulai menarik-narik; dan semakin keras ia menarik, semakin keras si cacing melekat di tumpukan kotorannya.
 
Apakah Anda mendapatkan moral dari cerita ini? Berapa banyak dari kita yang melekat pada tumpukan kotoran kita?
Oleh Ajahn Brahm

5 Jenis Gelas

5 Macam sikap seseorang yang mendapat suatu pelajaran, bagaikan 5 jenis gelas

1. Gelas Pertama adalah gelas yg tertutup.
... Karena tertutup gelas ini tidak tidak dapat diisi dengan apapun.
Gelas ini menggambarkan sikap seseorang yg tidak mau menerima apapun kata-kata dari siapapun.
Orang ini menganggap ajaran orang lain adalah salah, meskipun dirinya tak tahu apa yg benar.
Ia tak mau menimbang & merenungkan kata-kata orang lain.

2. Gelas Kedua adalah gelas yg sudah penuh berisi air.
Karena itu tidak dapat di isi dengan apapun.
Gelas ini menggambarkan sikap seseorang yang mau mendengar, tetapi karena di dalam dirinya
sudah ada ajaran yg dia percaya pasti benar,
maka ajaran yg baru tak bisa masuk.
Ajaran yg sudah ia dengar ini menghalangi dirinya 'tuk mau menimbang & merenungkan
kata-kata dari orang lain.

3. Gelas Ketiga adalah gelas yg pecah.
Karena itu sekalipun dapat diisi, gelas ini tak bisa
menampung air yg dituangkan kedalamnya.
Gelas ini menggambarkan seseorang yg tidak mampu mencerna ajaran. Karena itu,
meskipun dia ini mau mendengar, mau merenungkan ajaran yg diterima, ada halangan kekotoran batin yg membuat dirinya tak mampu memahami ajaran.
Entah itu halangan fisik, halangan mental, / kebodohan.

4. Gelas Keempat adalah gelas yg berisi kotoran.
Karena itu apapun yg dituangkan ke dalam gelas ini akan menjadi kotor.
Gelas ini menggambarkan seseorang yg punya sikap jahat.
Jika orang ini bertemu dgn yg lebih pandai,
ia akan menjadi iri. Kalau bertemu dengan yang lebih bodoh,
ia akan menghina. Kalau bertemu dengan yang setara,
ia menganggapnya sebagai pesaing.
Orang seperti gelas ke empat adalah tipe orang yg paling dihindari oleh seorang guru.
Jika ada murid seperti ini, guru yg bijaksana akan menjauh.

5. Gelas ke Lima adalah Gelas kosong yg bisa di isi oleh berbagi macam pengetahuan,
& ini merupakan sikap seseorang yg ideal 'tuk belajar.

About

Pengikut