Para Bhikkhu, ada 5 cara untuk
bebas dari dendam. Dengan itu, seorang Bhikkhu dapat menghilangkan semua Dendam
yang telah muncul dalam dirinya. Apakah yang 5 itu?
Jika
muncul suatu dendam terhadap siapapun, maka orang itu
seharusnya:
1.
Mengembangkan Cinta kasih (Metta) terhadapnya.
2.
Atau mengembangkan Kasih sayang (Karuna).
3.
Atau Mengembangkan Ketenang-seimbangan (Upekkha).
4.
Atau seharusnya Tidak Memperhatikan dan tidak Memikirkan dia.
5.
Atau orang itu dapat menerapkan Fakta Kepemilikan Karma terhadap orang itu:
"Orang
terhormat ini adalah pemilik perbuatan-perbuatannya, pewaris
perbuatan-perbuatannya; Perbuatan-perbuatannya adalah kandungan (dan dari situ
ia muncul), keluarganya dan pelindungnya. Apapun perbuatan yang ia lakukan
-baik atau buruk- dialah yang akan menjadi pewarisnya."
Inilah
5 cara untuk bebas dari dendam, yang dengnnya seorang bhikkhu dapat
menghilangkan semua dendam yang telah muncul di dalam dirinya.
(Anguttara
Nikaya 108. V.161)
Rabu, 15 Mei 2013
Cara Menghilangkan Dendam
Selasa, 14 Mei 2013
Perumpamaan meditasi pernafasan
-
. - . - . - . - . - . - . - . - . - . -
Pemusatan
pikiran yang tekun pada masuk dan keluarnya
nafas, bila dipupuk dan dikembangkan, adalah suatu
kedamaian dan suatu cara hidup yang menyenangkan.
Tidak
hanya itu, juga akan menghalau pikiran-pikiran
jahat tak terlatih yang telah timbul dan membuatnya
hilang seketika.
Bagaikan,
ketika bulan terakhir dari musim panas, debu dan
kotoran beterbangan, lalu hujan deras yang turun
tiba-tiba
menenangkan dan menurunkannya ke bumi seketika.
-
. - . - . - . - . - . - . - . - . - . –
Sumber:
Meditasi Pernafasan Anapanassati, oleh Kasapa Thera
Analogy of the House With East Window
The
Buddha asks:
"If there is a house with windows facing the east, when the sun rises and
sunlight enters by way of the window, where does it land?"
... The student
answers:
"The sunlight will land on the west wall,
Lord."
The Buddha asks:
"And if there is no west wall, where does the
sunlight land?"
The student answers:
"The sunlight will land on the ground,
Lord."
The Buddha asks:
"And if there is no ground, where does the
sunlight land?"
The student answers:
"The sunlight will land on water, Lord."
The Buddha asks:
"And if there is no water, where does the
sunlight land?"
The student answers:
"The sunlight does not land, Lord."
Finally, the Buddha sums up the analogy
(paraphrased):
“In the same way, where there is no craving for the
senses, then consciousness does not land there or grow.
Where consciousness does not land or grow,
name-&-form (mind and matter) does not alight. Where name-&-form does
not alight, there is no formation.
Where there is no formation, there is no production
of renewed becoming. Where there is no production of renewed becoming, there is
no future birth, aging, disease and death.
Then, this has no sorrow, affliction or despair.”
Lima Jari Tangan
LIMA JARI TANGAN
Lima jari tangan mengadakan pertemuan dengan
tujuan memutuskan siapakah
sesungguhnya di antara mereka yang paling unggul.
Pertama-tama, jempol tangan dengan bangganya
berkata: "Asalkan saya mengacungkan
jempol, berarti menandakan bahwa sayalah yang
paling unggul!"
Jari telunjuk dengan gusarnya membantah dan
berkata: "Setiap kali ingin makan, selalu
menggunakan telunjuk untuk mencolek dan
mencicipinya. Tanpa dapat mencicipi makanan
dan makan, semuanya tidak bisa hidup. Oleh karena
itu, sayalah yang paling unggul."
Jari tengah juga tidak mau kalah dan berkata:
"Diantara kita, sudah pasti sayalah yang paling
tinggi dan panjang. Oleh karena itu, anda semua
harus mendengarkan perintah saya!"
Jari manis dengan tenangnya berkata: "Setiap
kali upacara pernikahan, cincin kawin selalu
dikenakan pada saya. Demikian pula segala macam
cincin perhiasan yang bagus dan mahal
selalu dikenakan pada saya! Bagaimana anda dapat
menyamakan diri dengan saya?"
Keempat jari masing-masing membanggakan diri, namun
hanya jari kelingking yang berdiam
diri. Keempat jari tersebut kemudian dengan
perasaan heran berkata: "Kenapa kamu berdiam
diri?"
Jari kelingking dengan rendah hatinya berkata:
"Saya adalah yang paling kecil dan
paling akhir, bagaimana mungkin saya dapat
menyamakan diri dengan anda sekalian?"
Pada waktu keempat jari merasa senang sekali
mendengar ucapan tersebut, jari kelingking
melanjutkan: "Tetapi pada waktu memberikan
salam dan hormat (anjali - bersikap hormat
dengan merangkapkan kedua tangan di dada) kepada
Sang Buddha dan orang bijaksana
lainnya; sayalah yang paling depan dan dekat dengan
mereka!"
Di dalam masyarakat kita sering menjumpai
orang-orang yang menganggap dirinya paling
unggul. Orang yang benar-benar unggul bukanlah
diukur dengan kedudukan, nama besar
dan lain sebagainya. Orang yang benar-benar unggul
adalah orang yang dapat menghormati
orang lain dan dapat mengerti keadaan orang lain.
Bila seseorang dapat menerima dan memaklumi keadaan
suatu keluarga, maka dialah yang
patut disebut sebagai kepala keluarga. Demikian
pula bila seseorang dapat menerima
masyarakat, jagat raya, maka hatinya akan semakin
lapang dan dapat bersatu dengan
kebenaran Dharma, dia adalah seorang pemimpin
besar.
Di dunia ini, sesuatu yang terhormat dan agung
haruslah tumbuh dari ketulusan hati!
Sumber : Buku I Zhe Lu Hwa Liang Yang Ching
Oleh : Maha Bhiksu Shing Yun
Penyadur : Tan Chau Ming