Rabu, 15 Mei 2013

Cara Menghilangkan Dendam

Para Bhikkhu, ada 5 cara untuk bebas dari dendam. Dengan itu, seorang Bhikkhu dapat menghilangkan semua Dendam yang telah muncul dalam dirinya. Apakah yang 5 itu?

Jika muncul suatu dendam terhadap siapapun, maka orang itu seharusnya:

1. Mengembangkan Cinta kasih (Metta) terhadapnya.
2. Atau mengembangkan Kasih sayang (Karuna).
3. Atau Mengembangkan Ketenang-seimbangan (Upekkha).
4. Atau seharusnya Tidak Memperhatikan dan tidak Memikirkan dia.
5. Atau orang itu dapat menerapkan Fakta Kepemilikan Karma terhadap orang itu:
"Orang terhormat ini adalah pemilik perbuatan-perbuatannya, pewaris perbuatan-perbuatannya; Perbuatan-perbuatannya adalah kandungan (dan dari situ ia muncul), keluarganya dan pelindungnya. Apapun perbuatan yang ia lakukan -baik atau buruk- dialah yang akan menjadi pewarisnya."

Inilah 5 cara untuk bebas dari dendam, yang dengnnya seorang bhikkhu dapat menghilangkan semua dendam yang telah muncul di dalam dirinya.
(Anguttara Nikaya 108. V.161)

Selasa, 14 Mei 2013

Perumpamaan meditasi pernafasan

              - . - . - . - . - . - . - . - . - . - . -

Pemusatan pikiran yang tekun pada masuk dan keluarnya

nafas, bila dipupuk dan dikembangkan, adalah suatu

kedamaian dan suatu cara hidup yang menyenangkan.

 

Tidak hanya itu, juga akan menghalau pikiran-pikiran

jahat tak terlatih yang telah timbul dan membuatnya

hilang seketika.

 

Bagaikan, ketika bulan terakhir dari musim panas, debu dan

kotoran beterbangan, lalu hujan deras yang turun tiba-tiba

menenangkan dan menurunkannya ke bumi seketika.

              - . - . - . - . - . - . - . - . - . - . –

Sumber: Meditasi Pernafasan Anapanassati, oleh Kasapa Thera

Analogy of the House With East Window

The Buddha asks:
"If there is a house with windows facing the east, when the sun rises and sunlight enters by way of the window, where does it land?"

... The student answers:
"The sunlight will land on the west wall, Lord."

The Buddha asks:
"And if there is no west wall, where does the sunlight land?"

The student answers:
"The sunlight will land on the ground, Lord."

The Buddha asks:
"And if there is no ground, where does the sunlight land?"

The student answers:
"The sunlight will land on water, Lord."

The Buddha asks:
"And if there is no water, where does the sunlight land?"

The student answers:
"The sunlight does not land, Lord."

Finally, the Buddha sums up the analogy (paraphrased):

“In the same way, where there is no craving for the senses, then consciousness does not land there or grow.

Where consciousness does not land or grow, name-&-form (mind and matter) does not alight. Where name-&-form does not alight, there is no formation.

Where there is no formation, there is no production of renewed becoming. Where there is no production of renewed becoming, there is no future birth, aging, disease and death.

Then, this has no sorrow, affliction or despair.”

Lima Jari Tangan

LIMA JARI TANGAN

Lima jari tangan mengadakan pertemuan dengan tujuan memutuskan siapakah
sesungguhnya di antara mereka yang paling unggul.

Pertama-tama, jempol tangan dengan bangganya berkata: "Asalkan saya mengacungkan
jempol, berarti menandakan bahwa sayalah yang paling unggul!"

Jari telunjuk dengan gusarnya membantah dan berkata: "Setiap kali ingin makan, selalu
menggunakan telunjuk untuk mencolek dan mencicipinya. Tanpa dapat mencicipi makanan
dan makan, semuanya tidak bisa hidup. Oleh karena itu, sayalah yang paling unggul."

Jari tengah juga tidak mau kalah dan berkata: "Diantara kita, sudah pasti sayalah yang paling
tinggi dan panjang. Oleh karena itu, anda semua harus mendengarkan perintah saya!"

Jari manis dengan tenangnya berkata: "Setiap kali upacara pernikahan, cincin kawin selalu
dikenakan pada saya. Demikian pula segala macam cincin perhiasan yang bagus dan mahal
selalu dikenakan pada saya! Bagaimana anda dapat menyamakan diri dengan saya?"

Keempat jari masing-masing membanggakan diri, namun hanya jari kelingking yang berdiam
diri. Keempat jari tersebut kemudian dengan perasaan heran berkata: "Kenapa kamu berdiam
diri?"

Jari kelingking dengan rendah hatinya berkata: "Saya adalah yang paling kecil dan
paling akhir, bagaimana mungkin saya dapat menyamakan diri dengan anda sekalian?"

Pada waktu keempat jari merasa senang sekali mendengar ucapan tersebut, jari kelingking
melanjutkan: "Tetapi pada waktu memberikan salam dan hormat (anjali - bersikap hormat
dengan merangkapkan kedua tangan di dada) kepada Sang Buddha dan orang bijaksana
lainnya; sayalah yang paling depan dan dekat dengan mereka!"

Di dalam masyarakat kita sering menjumpai orang-orang yang menganggap dirinya paling
unggul. Orang yang benar-benar unggul bukanlah diukur dengan kedudukan, nama besar
dan lain sebagainya. Orang yang benar-benar unggul adalah orang yang dapat menghormati
orang lain dan dapat mengerti keadaan orang lain.

Bila seseorang dapat menerima dan memaklumi keadaan suatu keluarga, maka dialah yang
patut disebut sebagai kepala keluarga. Demikian pula bila seseorang dapat menerima
masyarakat, jagat raya, maka hatinya akan semakin lapang dan dapat bersatu dengan
kebenaran Dharma, dia adalah seorang pemimpin besar.

Di dunia ini, sesuatu yang terhormat dan agung haruslah tumbuh dari ketulusan hati!


Sumber : Buku I Zhe Lu Hwa Liang Yang Ching
Oleh : Maha Bhiksu Shing Yun
Penyadur : Tan Chau Ming

About

Pengikut