Minggu, 26 Mei 2013

Buddha dan boddhisatta

Sumber RAPB

 

Secara umum, buddha adalah makhluk yang telah sadar atau yang telah mencapai penerangan sempurna. Buddha ada 3 jenis golongan, yaitu:

·      Samma-Sambuddha adalah bagi mereka yang mendapat kesadaran penuh hanya dengan usaha sendiri, tanpa bantuan dari guru, serta dapat mengajarkan apa ia yang telah ia temukan (dhamma) tersebut kepada makhluk lain agar makhluk lain bisa mencapai penerangan sempurna (menjadi buddha) juga.

·      Pacceka-Buddha atau Pratyeka-Buddha adalah bagi mereka yang mendapat kesadaran penuh dengan usaha sendiri (tanpa bantuan guru), tetapi ia tidak mampu mengajarkan kepada makhluk lain agar mencapai penerangan sempurna. Tugas seorang pacceka buddha hanya meningkatkan moral umat manusia pada waktu itu saja, bukan mengajarkan makhluk lain hingga mencapai kebuddhaan.

·      Savaka-Buddha (murid dari samma-sambuddha), yaitu seseorang yang mencapai penerangan sempurna dengan bantuan dari Samma-Sambuddha.

 

Jenis-Jenis Boddhisatta (calon/bakal buddha):

1.    Samma-Sambodhisatta (kelak akan menjadi Samma-Sambuddha), terdiri dari 3:

a.    Bakal buddha pannadhika, yaitu boddhisatta yang kuat dalam hal kebijaksanaan. Waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan parami* adalah selama 4 asankhyeyya kappa+100000 Maha kappa. Disebut juga sebagai ugghatitannu boddhisatta (jika beliau ingin menjadi savaka-buddha—murid dari samma-sambuddha, beliau bisa mencapainya bahkan sebelum akhir dari baris ke-3 dari 4 baris yg dikhotbahkan samma sambuddha yang bersangkutan).

b.   Bakal buddha saddhadhika, yaitu boddhisatta yang kuat dalam hal keyakinan. Waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan parami adalah selama 8 asankhyeyya kappa+100000 Maha kappa. Disebut juga sebagai vipancitannu boddhisatta (jika beliau ingin menjadi savaka-buddha—murid dari samma-sambuddha, beliau bisa mencapainya bahkan sebelum akhir dari baris ke-4 yang dihkotbahkan samma sambuddha yang bersangkutan).

c.    Bakal buddha viriyadhika, yaitu boddhisatta yang kuat dalam hal semangat. Waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan parami adalah selama 16 asankhyeyya kappa+100000 Maha kappa. Disebut juga sebagai neyya boddhisatta (jika beliau ingin menjadi savaka-buddha—murid dari samma-sambuddha, beliau bisa mencapainya pada waktu setelah selesai mendengar khotbah samma sambuddha yang bersangkutan).

Perlu diperhatikan, ke-3nya berbeda dalam kebijaksanaan, keyakinan, dan semangat hanya pada saat masih boddhisatta, namun setelah mencapai kebuddhaan, kebijaksanaan, keyakinan, dan semangat mereka sama.

2.    Pacceka-Bodhisatta (kelak akan menjadi Pacceka-Buddha), mengumpulkan parami selama 2 asankhyeyya kappa+100000 Maha kappa.

3.    Savaka-Bodhisatta (kelak akan menjadi Savaka-Buddha), terdiri dari 3: bakal siswa utama (mengumpulkan parami selama 1 asankhyeyya kappa+100000 Maha kappa), bakal siswa besar (100000 Maha kappa), dan bakal siswa biasa.

 

 *parami dapat dilihat disini http://bennyshinichi.blogspot.com/2013/05/paramita-kebajikan-menuju-kesempurnaan.html

 

Kamis, 23 Mei 2013

Keheningan

Itivuttaka 3.67

Hening dalam tubuh, hening dalam ucapan,
... hening dalam batin, tanpa noda,
orang bijak terberkahi dengan keheningan.
Ia sungguh terbersihkan dari kejahatan.

Kāyamuniṃ vācāmuniṃ,
manomunimanāsavaṃ,
muniṃ moneyyasampannaṃ.
Āhu ninhātapāpakaṃ.

Silent in body, silent in speech,
silent in mind, without defilement,
blessed with silence is the sage.
One is truly washed of evil.

Waisak

Salah satu hari besar agama Buddha adalah hari Trisuci Waisak yang merupakan hari Raya paling besar dan paling bermakna bagi umat Buddha. Kata “Waisak” sendiri berasal dari bahasa Pali “Vesakha” atau di dalam bahasa Sansekerta disebut “Vaisakha”. Nama “Vesakha” sendiri diambil dari salah satu bulan dalam kalender buddhis yang biasanya jatuh pada bulan Mei kalender Masehi.
Namun, terkadang hari Waisak jatuh pada akhir bulan April atau awal bulan Juni. Hari Raya Waisak sendiri dikalangan umat Buddha sering disebut dengan hari raya Trisuci Waisak.
Disebut demikian karena Waisak memperingati tiga peristiwa penting yang semuanya terjadi di bulan Vesakha dan pada waktu yang sama yaitu tepat saat bulan purnama.
Tiga peristiwa penting itu adalah:

1.    Lahirnya Pangeran Siddharta di Taman Lumbini pada tahun 623 S.M.,

2.    Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Buddha di Buddha-Gaya (Bodhgaya) pada usia 35 tahun pada tahun 588 S.M.

3.    Buddha Gautama parinibbana (wafat) di Kusinara pada usia 80 tahun pada tahun 543 S.M.

Note: Sang Buddha lahir, pencapaian sempurna dan meninggal di tanggal dan bulan yang sama (yaitu bulan waisak tersebut).

Keputusan merayakan Trisuci ini dinyatakan dalam Konferensi Persaudaraan Buddhis Sedunia (World Fellowship of Buddhists - WFB) yang pertama di Sri Lanka pada tahun 1950.
Biasanya pada hari waisak, umat Buddha merayakannya dengan pergi ke vihara dan melakukan ritual puja-bhakti. Harus dimengerti bahwa umat Buddha melaksanakan ritual puja-bhakti adalah bertujuan untuk mengingat kembali ajaran sang Buddha dan melaksanakan ajaran yang telah diajarkan oleh Sang Buddha.

Bagi umat Buddha, hal tersebut berarti menaati peraturan moral, seperti menghindari pembunuhan makhluk hidup, mencuri, berbuat asusila, berbohong dan mabuk-mabukkan. yang kita kenal dengan Pancasila Buddhis. Selain kelima larangan tersebut, umat Buddha ketika hari Waisak biasanya mengembangkan cinta-kasih dengan cara membantu fakir-miskin atau mereka yang membutuhkan, melepas hewan (biasanya burung) sebagai simbol cinta-kasih dan penghargaan terhadap lingkungan, serta merenungkan segala perbuatan yang telah dilakukan apakah baik atau buruk sehingga diharapkan di masa mendatangkan tidak mengulangi perbuatan yang buruk yang dapat merugikan.

Sumber :

http://pranataharri.blogspot.com

wikipedia

Rabu, 22 Mei 2013

Kemuliaan terlahir sebagai manusia

By sehi vidyananda

 

 

Saat ini, banyak yg sedang susah, saat susah ingatlah......
ada minimal 4 keberuntungan kita lahir sbg manusia:
1. Sangat sulit lahir sbg manusia ; Buddha mengumpamakan debu di ujung jariNya ( kemungkinan lahir sbg manusia ), dibanding debu di bumi ini ( kemungkinan lahir di alam menderita ) mis ; ikan yg di tangkap manusia setiap harinya mungkin melebihi 10 milyard jumlah manusia.
2. Kita masih bertahan hidup sampai saat ini ; banyak teman2 kita yg tidak memiliki keberuntungan ini. Ada yg sudah meninggal saat didalam kandungan, saat lahir, baru balita, remaja, dewasa, baik terkena penyakit, bencana atau musibah.
3. Berkat timbunan kebajikan di masa lampau, kita lahir di negara yg aman, damai dan cukup sandang pangan. Banyak yg tidak memiliki keberuntungan ini misalnya lahir di negara yg sedang perang, atau terkena musibah kelaparan dsj.
4. Kita lahir umumnya dgn keadaan indra yg lengkap ; mata bisa melihat, telinga bisa mendengar, pikiran bisa membedakan yg benar dan yg tidak benar, yg boleh dilakukan dan yg tidak boleh dilakukan.
dan ada minimal tambahan 4 keberuntungan lagi sebagai siswa Sang Buddha :
5. Kita lahir saat berkembangnya Buddha Sasana Gotama ; saat ini sangat mudah memperoleh informasi ttg Dhamma Ajaran Buddha Gotama baik melalui buku2 Dhamma, Ajaran langsung oleh Anggota Sangha maupun melalui media online lainnya.
6. Kita memiliki Guru Yg Sempurna.
7. Kita memiliki Dhamma Ajaran Yg telah Sempurna di ajarkan.
8. Kita memilki Sangha, panutan yg melaksanakan Ajaran Yg Sempurna ini.

Dgn menyadari "keberuntungan2" ini hendaknya kita selalu bersyukur dan berterimakasih dan berusaha utk mempelajari, merenungkan, menyelidiki dan mempraktekan Dhamma dlm kehidupan sehari2. Bukanlah kita di ajarkan "Hidup ada Dukkha", juga berarti penderitaan ato permasalahan adalah bagian dr kehidupan, belajar dan belajar lebih bijak lebih tenang menghadapi permasalahan yg merupakan bahagian dr kehidupan.
Jangan sia2kan keberuntungan2 ini dgn melakukan hal2 yg di luar Dhamma dlm menghadapi permasalahan kehidupan. Bukankah kita telah "survive" selama ini menghadapi masalah2 yg pelik sekalipun. Smoga kita tetap teguh di Jalan Dhamma yg membawa kebahagiaan di sini dan di kehidupan yg akan datang.
Semoga bermanfaat....Sadhu.....

Top of Form

 

Dhammapada 182:

 

"Kiccho manussapaṭilābho,

kicchaṃ maccāna jīvitaṃ

kicchaṃ saddhammassavanaṃ,

kiccho Buddhānam uppādo."

 

Sungguh sulit untuk dapat dilahirkan sebagai manusia,

sungguh sulit kehidupan manusia,

sungguh sulit untuk dapat mendengarkan Ajaran Benar,

begitu pula, sungguh sulit munculnya seorang Buddha.

 

Bottom of Form

 

About

Pengikut