Selasa, 11 Juni 2013

Pandangan-pandangan keliru mengenai karma

Sumber: http://www.wihara.com/forum/artikel-buddhist/3242-hukum-karma.html

1. Karma hanya dianggap sebagai hal yang buruk saja.

... Pandangan ini beranggapan bahwa karma hanya dianggap sebagai hasil yang buruk saja yang menimpa seseorang yang telah melakukan perbuatan buruk. Pandangan keliru (miccha ditthi) ini terjadi karena adanya kerancuan antara kamma (perbuatan) dengan kamma vipaka (hasil perbuatan) dan pemahaman yang salah terhadap karma. Padahal, karma yang berarti perbuatan sedangkan hasilnya disebut vipaka, tidak hanya berhubungan dengan perbuatan buruk ataupun akibat buruk semata, tetapi juga perbuatan baik ataupun akibat yang baik. Karma vipaka (hasil perbuatan) tidak hanya berkaitan dengan hal-hal yang buruk tetapi juga hal-hal yang baik yang dialami oleh seseorang. Contoh: seseorang gemar berdana sehingga ia dihormati oleh setiap orang. Gemar berdana adalah karma baik dan dihormati orang lain merupakan kamma vipaka (hasil perbuatan) yang baik.


2. Kamma vipaka (hasil karma) dianggap sebagai nasib atau takdir yang tidak bisa diubah.

Pandangan ini dikatakan keliru karena Ajaran Buddha tidak mengajarkan paham Takdir (Niyativada ), juga tidak mengajarkan paham Bebas bertindak (Attakiriyavada), tapi suatu Kehendak berprasyarat (Inggris : Conditioned ).

jika hal itu terjadi maka seseorang tidak akan dapat bebas dari penderitaan- nya. Padahal seseorang dapat mengubah apa yang sedang ia alami. Selain itu, Guru Buddha telah mengajarkan mengenai Viriya atau semangat membaja yang berguna untuk mengatasi segala kesulitan. Sebagai contoh, seseorang yang lahir dalam keluarga yang kekurangan (miskin) karena kamma kehidupan lampau yang buruk yang telah ia lakukan dikehidupan yang lalu, ia dapat mengubah kondisi yang dialaminya tersebut dengan bekerja keras sehingga ia tidak lagi hidup dalam kemiskinan.


3. Prinsip kerja hukum karma adalah mata dibayar mata, nyawa dibayar nyawa.

Pandangan ini beranggapan bahwa karma akan selalu menghasilkan bentuk yang sama dengan hasil perbuatan (kamma vipaka), membunuh maka akan akan dibunuh, mencuri maka akan dicuri, menipu maka akan ditipu, dan sebagainya. Pandangan ini keliru karena karma memiliki karakter yang dinamis dan tidak lepas dari kondisi-kondisi yang ada, sehingga tidak selamanya bentuk dari hasil karma akan sama dengan bentuk karmanya. Tetapi yang dapat dipastikan adalah sifatnya, dimana karma yang sifat buruk pasti akan menghasilkan hal yang sifatnya juga buruk, karma baik pasti akan menghasilkan hal yang sifatnya juga baik.


4. Karma orang tua diwarisi oleh anaknya.

Pandangan ini beranggapan bahwa orang tua yang melakukan karma buruk maka hasilnya (vipaka) akan di terima oleh anaknya atau keluarga lainnya.

Pandangan ini keliru karena prinsip kerja karma adalah siapa yang melakukan perbuatan maka ia akan yang menerima hasilnya. Dalam Cullakammavibhanga Sutta; Majjhima Nikaya 135 ,Sang Buddha bersabda :

"Semua mahluk hidup mempunyai kamma sebagai milik mereka, mewarisi kammanya sendiri, lahir dari kammanya sendiri, berhubungan dengan kammanya sendiri, dilindungi oleh kammanya sendiri. Kamma itulah yang membedakan makhluk hidup dalam keadaan rendah atau tinggi."


Dalam kasus tertentu terlihat sepertinya orang tua yang melakukan karma buruk dan anaknya yang mengalami penderitaan. Hal ini bukan berarti karma buruk orang tua diwarisi oleh anaknya, tetapi ini lebih berarti bahwa karma buruk orang tua tersebut memicu karma buruk si anak untuk berbuah. Dengan kata lain seseorang akan menerima akibat dari karmanya sendiri, tetapi karmanya dapat mempengaruhi atau mengkondisikan karma orang lain untuk berbuah.


5. Segala sesuatu yang terjadi pada saat ini adalah akibat dari perbuatan pada kehidupan lampaunya.

Pandangan ini beranggapan bahwa setiap kejadian yang kita alami; tersandung, jatuh sakit, menang undian, terlahir tampan, semuanya adalah hasil Karma lampau semata-mata. Dengan alasan yang sangat tepat Sang Buddha menolak kepercayaan salah tersebut. Sebab bila demikian halnya, maka sia-sia untuk berbuat baik dan menghindari perbuatan tercela, sebab keseluruhan hidup telah ditentukan sebelumnya. Pengertian Salah seperti inilah yang membuat seseorang bersikap apatis / Pasrah dan tak bersemangat untuk berupaya memperbaiki Karma buruknya.

Sang Buddha bersabda : " Ada beberapa pertapa dan kaum Brahmin, yang mempercayai dan mengajarkan bahwa apapun yang dialami seseorang, menyenangkan, menyakitkan atau netral, semua disebabkan oleh kamma lampau. . Aku menemui mereka dan bertanya apakah benar mereka mengajarkan hal yang demikian...., mereka ternyata mengiyakan.

Aku berkata : "Bila demikian, tuan yang terhormat, seseorang membunuh, mencuri dan berzina disebabkan kamma lampau. Mereka berbohong, berfitnah, berkata kasar dan tak berharga disebabkan kamma lampau. Mereka menjadi serakah, membenci dan penuh pandangan salah disebabkan kamma lampau ?.
Mereka yang mendasarkan segala sesuatu pada kamma lampau sebagai unsur penentu, akan kehilangan keinginan dan usaha untuk berbuat ini atau tak berbuat itu " ( Angutta Nikaya I : 173 ).


6. Karma maupun vipaka (hasil karma) ditentukan oleh Tuhan.

Pandangan ini beranggapan bahwa semua yang diperbuat dan dialami seseorang pada masa sekarang, baik hal yang baik maupun buruk tidak lain merupakan kehendak tuhan.

Pandangan ini keliru karena jika hal itu terjadi maka semua perbuatan dan semua yang dialami seseorang tidak lain hanya merupakan kehendak tuhan, sehingga seseorang tidak memiliki kehendak bebas, hanya akan menjadi "boneka" yang tidak bisa membebaskan diri dari penderitaan dan akan menjadi seseorang yang tidak memiliki kewaspadaan dan pengendalian diri. Hal ini telah dibabarkan oleh Guru Buddha dalam Tittha Sutta; Anguttara Nikaya 3.61.

jika memang demikian, maka seorang pembunuh, perampok, pencuri atau pelacur tidak perlu bertanggung jawab terhadap semua perbuatan buruknya atau dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan jahatnya, karena semua perbuatannya adalah atas kehendak Tuhan.


7. Karma buruk dikehidupan lampau dapat dihilangkan /dihapuskan.

Pandangan ini beranggapan bahwa karma (perbuatan) buruk yang telah dilakukan seseorang, dapat dihilangkan/dihapuskan.

Pandangan ini keliru karena bagaimanapun juga perbuatan buruk itu telah dilakukan dan telah terjadi, sehingga akibat dari perbuatan buruk itu pasti akan diterimanya dan tidak dapat dihapuskan.

Sebagai contoh; Sang Buddha sendiri tetap menerima hasil dari karma buruk kehidupan lampauNya berupa terlukanya kaki Beliau karena batu yang digulingkan oleh Devadatta. Jika karma kehidupan lampau bisa dihapuskan maka Sang Buddha pasti dengan mudah menghilangkannya dan kaki Beliau tidak akan terluka.

Karma masa lampau tetap akan menimbulkan hasilnya seperti yang telah dijelaskan oleh Sang Buddha dalam Lonaphala Sutta; Anguttara Nikaya 3.99, dengan menggunakan perumpamaan garam yang sama banyaknya, yang satu dimasukkan ke dalam air di cangkir dan dan yang lain ke dalam sungai Ganga. Garam diibaratkan sebagai karma buruk dan air adalah karma baik. Ketika garam dimasukan ke dalam sebuah cangkir maka rasa garam tersebut akan terasa asin. Sedangkan garam yang jumlahnya sama dimasukan ke dalam sungai, maka air sungai tersebut tidak akan terasa asin. Jadi karma buruk kehidupan lampau akan memberikan hasil/dampak tetapi dengan adanya karma baik yang banyak yang dilakukan pada masa sekarang maka dampak dari karma buruk tersebut menjadi berkurang bahkan tidak terasa.


8. Hukum Karma hanya berlaku bagi orang yang mempercayainya sesuai dengan agama yang dipeluknya.

Pandangan ini keliru, karena Hukum Karma sesungguhnya adalah merupakan hukum alam yang bersifat universal, yang mempercayainya ataupun yang tidak mempercayainya, tak peduli apapun agama dan kepercayaan yang dianutnya akan tetap menerima akibat dari perbuatan yang dilakukan oleh pikiran, ucapan dan tubuh jasmaninya sendiri.

Demikian pula bagi seseorang yang tidak percaya pada kehidupan masa lampau dan hukum Karma, tetap bisa berbahagia sebagai hasil dari perbuatan baiknya dimasa lampau.

" Sesuai dengan benih yang ditanam, itulah buah yang akan engkau peroleh.
Pelaku kebaikan akan memperoleh kebaikan.
Pelaku keburukan akan memperoleh keburukan.
Jika engkau menanamkan benih yang baik,
maka engkau menikmati buah yang baik ".
( Samyutta Nikaya I : 227 ).

Jumat, 07 Juni 2013

Mengapa harus disini

Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Vijito

 

Pada hari ini, kita semua telah hadir di sini untuk mendengarkan Dhamma, mendengarkan Dhamma adalah salah satu berkah utama, sambil mendengarkan Dhamma kita berusaha untuk membuat tubuh tegak dalam sikap duduk dan pikiran berusaha berkonsentrasi. Pada jaman Sang Buddha, orang mendengarkan Dhamma dengan penuh perhatian; duduk bersila sambil memejamkan mata, mengawasi pikiran, mengontrol pikiran, menyadari, bahwa tempat ini sesuai untuk mendengarkan Dhamma, melatih pikiran, dan mengetahui, mengapa kita berkumpul di sini.

Kadang-kadang kita tidak mau menyadari, kita tidak mau tahu, mengapa kita di sini ..?. Kita tidak mengerti apa yang seharusnya dimengerti, dengan kata lain kita tidak tahu benar-benar bagaimana sebenarnya sesuatu itu atau sesuatu itu sebenarnya apa.

Marilah saat ini kita menenangkan diri, jangan resah dan bingung, orang yang telah mencapai pencerahan telah menjelaskan bagaimana sebenarnya mengendalikan pikiran yang terombang-ambing, tujuan kita datang di sini untuk mendengarkan Dhamma, melatih pikiran, mengawasi pikiran, selanjutnya kita berusaha mengembangkan ketenangan batin, cinta kasih dan kasih sayang kepada semua makhluk hidup.

Mengamati, memeriksa di dalam diri adalah hal yang terpenting, kita harus berjaga-jaga terhadap tindakan, ucapan, dan bentuk-bentuk pikiran. Sebagaimana tindakannya, begitu juga hasil yang akan terjadi, sama seperti benih yang ditanam, begitu pula buah yang akan dipanen, sebagaimana tindakan-tindakan kita, begitu juga buah tindakan kita.Di manakah kita harus berjaga-jaga..?. Pada tindakan fisik ucapan dan pikiran. Dalam kehidupan umum kita begitu banyak mementingkan tindakan fisik ,kita kurang memperhatikan pentingnya tindakan ucapan dan hampir tidak menaruh perhatian sama sekali terhadap tindakan pikiran. Bila sesuatu muncul dalam pikiran, mau diapakan ..?. Tetapi setelah kita menyadari kebenaran dalam diri, hukum kebenaran itu akan mulai menampakkan dirinya. Hukum kebenaran akan menjadi sangat jelas sehingga tindakan pikiranlah yang menjadi sangat penting. Bukan tindakan fisik dan bukan tindakan ucapan.

Bila kita selalu waspada terhadap tindakan pikiran kita, kita tidak perlu mencemaskan perbuatan fisik maupun ucapan; secara teratur perbuatan fisik maupun ucapan akan menjadi baik karena segalanya dimulai dari dalam pikiran lebih dahulu. Semua tindakan dimulai dari pikiran, ketika pikiran menjadi menguat dan makin menguat maka tindakan itu lalu mewujudkan diri sebagai tindakan ucapan, jika bertambah menguat dan makin menguat maka tindakan itu akan mewujudkan diri sebagai tindakan fisik. Segalanya dimulai dari dalam pikiran, karena itu tindakan pikiran adalah yang paling penting. Pikiran mendahului segalanya. Setiap tindakan dimulai dari pikiran dulu, baru setelah itu ada di tingkat ucapan atau fisik. Oleh sebab itulah maka pikiran itu paling penting.

Pikiran mempunyai arti yang penting. Apapun yang dialami orang dalam kehidupan ini; menyenangkan, tidak menyenangkan, baik, buruk atau apapun sebutannya, apapun yang dialami orang dalam kehidupan, semuanya tidak lain tidak bukan hanyalah produk pikiran. Jika seseorang melakukan suatu tindakan pada tingkat fisik atau ucapan dengan dasar pikiran yang tidak murni, berarti dasarnya salah atau tidak murni maka kesengsaraan akan terus menerus mengikuti kemanapun orang itu pergi, dari tempat ini ke tempat lainnya, dari bumi ini ke bumi lainnya; kemanapun kita pergi tidak ada hal lain kecuali kesengsaraan dan penderitaan. Penderitaan akan selalu mengikutinya seperti roda pedati yang selalu mengikuti kuda yang diiikatkan pada pedati itu karena kuda itu terikat pada pedati maka kemanapun kuda itu lari maka roda itu akan terus mengikuti dan terus mengikuti.

Bila seseorang melakukan tindakan fisik atau ucapan dengan dasar pikiran yang murni, maka hanya kebahagiaan yang akan mengikutinya, kemanapun kita pergi, kebahagiaan ada di sini seperti bayang-bayang yang selalu mengikuti.

Pikiran adalah dasar yang paling penting, jika dasarnya murni maka semua tindakan kita apapun bentuknya akan memberikan dan membawa buah-buah yang baik saja, tetapi jika dasarnya tidak murni maka hasilnya atau buahnya pasti jelek, sekarang akan menderita di sini dan terus menderita di masa yang akan datang. Jika melakukan tindakan-tindakan yang baik, seseorang akan bahagia di sini dan di masa yang akan datang.

Tidak ada kekuatan di luar yang dapat melakukan semua hal itu karena hukum kebenaran memang demikian. Semakin dalam kita menyadari hukum kebenaran ini, maka kita semakin mengerti dan tidak akan melakukan apapun yang akan membuahkan kesengsaraan bagi kita. Kita hanya akan melakukan hal-hal yang akan membawa kedamaian bagi kita. Beginilah hukum kebenaran itu, hanya bisa terjadi jika mengamati perasaan yang paling kasar menuju yang paling halus, lalu seluruh hukum itu menjadi jelas.

Kita harus berhati-hati terhadap tindakan-tindakan kita, tindakan-tindakan mental kita, tetapi orang tidak dapat berhati-hati terhadap tindakan pikiran kecuali jika kita memahami apa pikiran itu, dan bagaimana pikiran bekerja. Dengan latihan kesadaran yang bergerak dari kepala ke kaki, kita hanya menjelajahi kebenaran yang berhubungan dengan tubuh, selain itu kita harus menjelajahi kebenaran yang berhubungan dengan pikiran; bila kita sudah lebih maju lagi akan lebih jelas bagaimana seharusnya seluruh fenomena materi-batin itu, dan bagaiamana pengalaman itu bekerja .

Di mana tempatnya dan apa hasilnya ..?. Hasilnya Dhamma muncul, ia muncul bersama pengertian dan pengetahuan kita. Semua orang bisa dan mampu mengerti Dhamma, ini bukanlah sesuatu yang harus dicari di buku, kita tidak harus banyak belajar untuk bisa melihatnya ,renungkanlah sekarang uraian di bawah ini tentang kesadaran ,perasaan, bentuk-bentuk pikiran dan pencerapan. Semua ini ada di dalam diri tubuh kita yang tidak kekal, keinginan yang timbul itu semua telah bekerja dan kontak dengan indria kita; tugas kita sekarang hanya mengamati, menyadari memeriksa, menganalisa, memilah-milah, membagi-bagi, memahami, tidak mengikat, tidak melekat, tetapi ketaka melepas, melepas sesuatu yang muncul, ulangi berkali-kali, sampai kita mampu melihat dengan jelas.

[ Dikutip dari Gema Dhammavaddhana Edisi 7 ]

 

Selasa, 04 Juni 2013

Sebuah sajak dari ikkyu

Mempelajari teks dan meditasi secara kaku dapat membuat anda kehilangan ‘Pikiran Asli’ anda. Sebuah ‘lagu sunyi’ dari seorang nelayan, sungguh, bisa menjadi harta karun tak ternilai.

Senja berhujan di sungai, bulan mengintip masuk dan keluar dari awan-awan;
Anggun melampaui kata-kata, ia menyanyikan lagu pada malam demi malam.

~ Ikkyu

Ikkyu dan wanita bugil

Ikkyu makin dewasa, dan konon ia mengalami pencerahan saat mendengar suara burung gagak mengaok melintasi danau.
Suatu hari, Ikkyu berjalan di tepi sungai, tanpa sengaja ia kepergok dengan seorang wanita bugil yang baru selesai mandi. Apa yang Ikkyu lakukan?
Ikkyu tidak buru-buru menghindar, malah membungkuk menghormat dengan dalam. Beberapa orang yang kebetulan melihat kejadian itu kemudian protes kepada Ikkyu, "Orang biasa hanya akan melirik wanita telanjang itu. Mengapa anda malah membungkuk?"
Ikkyu berkata: "Wanita adalah sumber semua manusia, termasuk Buddha dan Bodhidharma.Apa yang salah dengan menghormati sumber kehidupan?"

About

Pengikut